Hati-Hati, Penjahat Medos Mengintai Remaja Kita!

Orang Tua yang Punya Anak Remaja Wajib Baca

Bismillahirrahmaanirrahiiim…

Sebelumnya terima kasih sudah berkenan meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini, yang InsyaAllah bisa jadi satu informasi baru yang perlu kita waspadai agar dapat membantu anak-anak kita selamat dari penjahat medsos.

Sebenarnya kisah ini saya sudah sering sampaikan di setiap saya mendapat kesempatan mengajar atau mengisi seminar untuk remaja. Namun beberapa hari ini dorongan begitu kuat untuk Kembali menuliskan dan menyebarkan informasi yang InsyaAllah berguna bagi orangtua untuk menolong putra-putrinya yang berada dalam intaian penjahat medsos. Atau bisa jadi ada di antara anak kita yang sudah terperangkap oleh aksi penjahat medsos.

Cerita singkatnya begini, sekitar empat atau lima tahun lalu saya menemui remaja yang tingkahnya sangat kontras dengan teman-teman di lingkungannya. Secara kecerdasan dan ekonomi keluarga tidak jauh berbeda dengan teman-temannya yang cenderung aktif, terbuka, kompetitif dan mudah bersosialisasi.  Remaja satu ini sangatlah tertutup, tidak hanya pendiam dan enggan berkompetisi, untuk dapat diajak ngobrol berdua aja susahnya minta ampun.

Setelah didekati dan didengarkan ternyata si remaja tersandung masalah yang ia merasa tidak mungkin bercerita ke siapapun karena malu dan sebagainya.

Bermula dari facebook, awalnya si remaja bangga karena beberapa hari terakhir bertambah permintaan pertemanan dari orang yang tidak dikenal, berwajah cantik, molek dan berasal dari luar negeri. Begitu dia admit, tak lama langsung menyapa secara private dengan kata “hallo,”, “Where R you from?” dan sebagainya.

Dengan sapaan itu si remaja semakin bangga karena merasa diperhatikan oleh teman baru yang cantik dari luar negeri pulak. Di balas lah sapaannya, bahkan sesekali harus membuka kamus digital sekiranya ada kata atau kalimat yang belum dimengerti. Sampailah pada kondisi diarahkan si remaja itu untuk menggunakan platform lain. Si pelaku menanyakan “Apakah punya akun Line?”, kemudian tukar-menukar ID dan seterusnya.

Disitulah komunikasi intens dan intim terjadi kemudian dilanjut dengan tukar menukar foto dan video topless. Si remaja tidak menyadari apakah itu akun asli atau palsu, yang dia yakini saat itu, keduanya sudah saling dekat, saling prhatian dan saling membutuhkan.

Setelah mendapat foto & video fulgar dari si remaja muda, barulah keluar wujud asli si penjahat sosmed itu. Dia mengaku darimana asalnya, data apa saja yang sudah dimilikinya. Dan  ancaman mulai diberikan kepada si korban. Di titik itulah sang remaja mulai hilang peranganya, terkikis semangat hidupnya, menyesal tidak terkira, namun sayangnya dia enggan bercerita ke siapa-siapa dan hanya meladeni tuntutan si penjahat untuk melakukan transfer uang rutin yang tidak sedikit. Dan itu ia lakukan berbulan-bulan demi mempertahankan keamanan dan nama baiknya.

Barulah setelah si remaja bercerita, mendapat ruang dengar, tidak dimarahi tapi diberi motivasi untuk bangkit kembali memulai hidup baru dengan lebih hati-hati. Secara hukum, sang remaja sebenarnya masihlah aman, namun secara sosial yang banyaknya belum semua siap menerima dan berakhir pada menutup diri dan bahkan terjadi bunuh diri.

Di pertengahan tahun 2017 saya berniat mendedikasikan sebagian waktu saya untuk mengedukasi adik-adik remaja dengan membuat modul pelatihan dengan judul “Smartphone Management for Smart Millenials”. Hal itu sebagai reaksi kekhawatiran saya akan penggunaan smartphone yang semakin merebak di kalangan remaja namun tidak semakin smart penggunaannya. Dan asal muasal inisiatif penjahat medsos fokus menekuni dunia peras-memeras korban ini juga karena semakin banyaknya penggunaan smartphone di kalangan remaja yang secara emosi dan kematangan lainnya belum stabil dan cenderung mudah digoda dan dikuasai.

Untuk mematangkan modul, saya lakukan beberapa survey terkait masalah penggunaan smartphone dan terkhusus untuk mempelajari tipikal dan cara serta perilaku si penjahat medsos yang kian menghawatirkan remaja, dan juga termasuk kita orang dewasa. Sayapun coba langsung admit beberapa permintaan pertemanan yang memiliki profil sejenis, cantik, muda, molek, kebule-bulean.

Awal-awal saya amati kalau chat’nya aman tidak lama akun berubah atau hilang jadi facebook user. Bisa jadi sudah di block facebook karena ada konten larangan atau aduan dari banyak korban sebelumnya. Berikutnya saya tes, share gambar yang tanpa baju tapi full celana. Sempat mulai aneh dan mengancam tapi saya abaikan dan tak lama akunnya kembali hilang atau berubah jadi facebook user.

Muncul lagi permintaan dengan profil sejenis, modus dan strateginya masih sama, menyapa menggunakan bahasa Inggris sederhana, meminta akun medsos lainnya. Sampailah pada ajakan live call at night, kebayang kan untuk remaja yang sudah tidur di kamar sendiri dan imannya belum kuat, kemungkinan besar pastinya tergoda.

Sempat ragu pada saat itu tapi karena penasaran sejauh mana cara dan keberanian penjahat medsos dalam memeras korban, saya coba on camera dan topless seolah-olah tak berdaya. Tidak lebih dari 10 detik langsung saya matikan, benar saja si penjahat itu sudah sangat profesional dengan senjata dan perangkat canggihnya. Selang beberapa detik langsung muncul chat dari si penjahat menunjukan hasil rekaman yang sudah diunggah ke dalam sebuah situs online dan menunujukkan list pertemanan saya yang akan disebar link video tersebut.

Antara kesal dan emosi pada saat itu, tapi karena sudah tanggung saya lanjutkan (bukan dilanjut live call tapi lanjut melacak dari mana asalnya si penjahat sosmed ini).

Setelah saya telusuri ternyata si pelaku pada waktu itu dari negara Filipina dan dengan mudahnya dia menyebutkan angka “hari ini juga transfer 10.000.000 ke rekening ….”. Saya segera share dengan rekan yang ahli IT n HUKUM, dan jawabannya sangat melegakan “Abaikan Mas, itu ancaman saja, menyebarkan itu sama-sekali tidak menguntungkan si pelaku”. Ok, Thank you Mas.

Nah, kebayang kan kalau ini terjadi sama remaja kita, anak kita?
Mau cerita dengan siapa dia?.  Faktanya justru ketakutannya akan kena omel dan bullying jauh berkali-kali lipat dengan takutnya ancaman si penjahat medsos itu. Yang terjadi adalah sama seperti remaja yang saya ceritakan sebelumnya, rela memberikan uang jajan dan tabungannya demi selamat dari rasa malu dengan orang sekitarnya. Jika dalam waktu Panjang dan tak juga diceritakan, timbullah stress, takut berlebih, dan tidak jarang terjadi demotivated dan suicide. “Na’udzubullahi Mindzalik”

 

Nah, kemudian apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi adik-adik remaja kita yang  sudah semakin terbiasa berselancar di dunia maya:

Pertama, Yaps, “Don’t write what you are going to delete!” Janganlah sesekali menulis atau posting atau share hal-hal jelek. Ingat, setiap apa yang kita share di internet, ada jejaknya!. Pikir ulang untuk membalas chat akun yang tidak kita kenal.

Kedua, untuk orangtua, sekiranya mendapati anak atau keponakan dengan perubahan perilaku yang mirip-mirip remaja di atas. Cobalah dekati perlahan, dengarkan, rangkul, temani, dukung untuk terus berubah ke arah lebih baik. Mendengarkan dan memaafkan dapat menyelamatkan masa deapannya.

Ketiga, siapapun yang baca tulisan ini, mohon bantu sebarkan demi menyelamatkan lebih banyak lagi anak-anak kita dari ancaman penjahat medos yang semakin menakutkan.

Terima kasih dan _Wassalamualaikum Wr. Wb_

Jakarta, 03 Agustus 2021
~fmg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *