Setiap Orangtua Punya Sekolah

“Setiap Orangtua Punya Sekolah”

Sebut saja Jilban, bocah kecil berusia 15 thn ini saya jumpai di sebuah tempat makan di sebuah rest area.
Awalnya saya kira Jilban adalah anak dari salah satu pengunjung yang sedang memesan makanan, terkaget saat adik perempuan saya menuju kasir untuk cari daftar menu, bocah kecil itu justru yang pertama merespon diantara remaja-remaja berseragam yang bekerja dengan bertanya “Cari buku menu Kak? silahkan…” seraya menyodorkan buku menu lebgkap daftar harganya.
Kami sekeluargapun bergegas memilih menu makanan yg kita inginkan dari buku menu yg jilban berikan, setelah memesan baru engah ternyata itu tempat makan memiliki lebih dari 10 cabang terlihat pada bagian depan buku menu.
Saat makanan datang dan menikmatinya, sempat ada kejadian-kejadian kecil di antara para remaja yang bekerja disitu yang membuat saya semakin penasaran.
Pekerja yg mayoritas remaja itu sibuk mengantar dan membersekan meja yang telah ditinggalkan pengunjung, di bawah komando si bocah kecil itu.
Karena lapar saya kembali lahap menghabiskan makanan yang sudah kami pesan, tiga posri soto dan dua porsi paket lengka nasi gudeg beserta teh hangat kesukaan saya.
Yang paling mencengangkan dan membuat saya takjub adalah saat say menuju kasir, ternya jilban kecil lah yang dengan ramah dan cepat menghitung total bill dari yang kami pesan.
Matanya menatap ke saya seraya menanyakan menu tambahan, sementara jarinya aktif otomatis bergerak ke angka-angka mesin kasir sesuai dengan menu yang saya sebutkan.
“Lulusan Sekolah Kejuruan pun belum tentu seterampil bocah kecil ini kali ya…”, bisik dalam hati.
Karena penasaran maka saya ajak anak ini ngobrol seraya izin untuk memotonya.
Dari hasil wawancara singkat kurang lebih begini hasilnya, namanya Jilban, usianya 15, saat ini duduk di Bangku SMP kelas 1, membantu di warung sejak SD sepulang dari sekolah. Pertanyaan terahirku adalah lebih senang dimana, belajar di sekolah sekolah apa disini?, Jilban menjawab sambil tersenyum, “lebih senang di sekolah”.
Baik, kembali ke judul “Setiap Orangtua Punya Sekolah” adalah lesson learn atau pembelajaran dari analisa saya terhadap Jilban.
Apa yang saya pelajari hari ini?
Pertama, Jelas orangtua Jilban bukan orangtua biasa, bukan karena banyak bisnisnya, namun luar biasa bagaimana mereka mempercayai diri mereka dan anaknya untuk bisa menjadi bagian penting di tempat itu, yg tidak banyak orangtua lainnya mau & mampu lakukan.
Kebanyakan dari orangtua membingkai anak-anaknya untuk tertib pada template jalur pendidikan pemerintah pada umumnya, “kamu fokus sekolah ya nak, belajar ya nak, jangan ke pasar, jangan main ke warung, jangan ikut-ikutan, ini urusan pekerjaan, ini urusan orang dewasa, kamu belum waktunya dan seterusnya.”
Padahal tiap-tiap orangtua punya sekolah yang lengkap dengan tempat praktek dan ekosistemnya.
Orangtua petani, punya cangkul, punya tanaman, punya lahan, punya segudang pengalaman pastinya tentang 5W1H dalam bertani yang bisa menjadi pengALAMan mahal bagi anak-anaknya.
Orangtua yang pedagang, mereka punya ritme pola waku disiplin, strategi dan sebagainya, kapan harus belanja, bagaimana cara berjualan, bagaimana berkomunikasi dengan pelanggan dan sebagainya yang belum tentu didapat hanya dengan rutin bersekolah.
Jelas beda profesi beda cara beda aturan beda batas keterlibatan untuk anak, namun saya meyakini itu semua ilmu hidup yang sangat berguna bagi anak, akan ada banyak keterampilan hidup serta peluang belajar bagi anak-anak kita.
Sekolah-sekolah unggulan semakin mengedepankan contextual dan project based learning yang sebenarnya sudah ada di sekolah yang dimiliki oleh setiap orangtua.
Apalagi yang bisa kita pelajari di Jilban?
Keterampilan & ketulusan MELAYANI yang Jilban tunjukkan pada setiap pelanggan itu ISTIMEWA, dan tidak mudah dipelajari di sekolah biasa, terlebih Jilban ini orang berada, namun keren benget orangtuanya yang telah berhasil menempanya dengan cara yg berbeda dan NYATA.
Leadership skill, keteramlilan memimpin orang lain, terlebih yg usianya di atas Jilban, berkomunikasi tanpa arogan tidak bermanja-manja yg sebenarnya bisa saja Jilban lakukan selaku anak owner, itu KEREN banget. Saya menyimak & menyaksikan bagaimana dia dengan suara pelan tapi firm kepada timnya, “Kang, meja itu sudah dilayani belum?” dan direspon oleh pekerja yg usianya remaja itu dengan sigap dan antusias.
Jelas ini bukan proses yg singkat, bagaimana orangtua menunjukkan sikap ketauladanan di rumah pasti jadi faktor intervensi yg kuat dan alamiah, ditambah TRUST (kepercayaan) yang orangtua berikan kepada ananda Jilban yang akhirnya mampu menunjukkan rasa percaya diri & tanggung jawab besarnya di usinya yang masih begitu muda.

Terahir, yuk lah jangan tabu untuk memberikan pengalaman pekerjaan kepada anak-anak kita, sekiranya ada kesempatan untuk melibatkan anak-anak kita, libatkanlah, itu pengALAMan mahal dan butuh prosss panjang pastinya. Minimal bersedia menjawa saat anak-anak bertanya.
Setiap Orangtua Punya Sekokah, berikan kesempatan belajar kepada anak-anak kita di sekolah pada umumnya, dan buka kesempatan kepada anak-anak kita untuk terlibat dan belajar langsung di sekolah orangtunya.
Semoga bermanfaat,
Silahkam SHARE jika merasa berguna
Fadhil Mas Ghufron
21 Desember 2020

2 comments

Leave a Reply to mas_fadhil Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *