Lima Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Mengajar Daring

Fenomena Covid-19 yang melanda sebagian besar penduduk dunia tak terkecuali Indonesia berdampak pada hampir seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali Pendidikan. “Pandemi Covid-19 pastinya memiliki dampak di berbagai sektor mulai dari ekonomi, sosial dan juga di dunia pendidikan, hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan dalam melaksanakan pembelajaran.” (Jamaluddin, 2020). United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mencatat, Covid-19 berdampak pada pendidikan sekitar 290,5 juta pelajar di dunia dengan total lebih dari 165 negara yang menerapkan penutupan sekolah.

Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasus COVID-19 pada Senin 2 Maret lalu. Saat itu, Presiden Joko Widodo mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit virus Corona yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun. Merespon kejadian itu, Mendikbud dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang pencegahan Covid-19, dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID- 19), serta Surat Edaran dan petunjuk dari Kepala Daerah, dan Rektor masing-masing Universitas.

Sepuluh bulan berjalan sejak Maret 2021 hingga Januari 2021, penyebaran Covid-19 belum juga dapat dikendalikan, bahkan per 26 januari 2021, kasus Covid-19 di Indonesia telah tembus 1.000.000.  Hampir sepanjang tahun para siswa dipaksa untuk belajar dari rumah dengan segala tantangan dan  keterbatasannya.  Hal itu menuntut para guru untuk mampu mengajar dengan cara-cara baru yang bisa jadi belum  pernah dilakukan sebelumnya. Mengandalkan pengalaman sebelumnya sangat mungkin tidak relevan rengan kebutuhan kompetensi selama BDR, Terlebih di lingkungan Sekolah Alam Cikeas, yang mana sebelumnya guru-guru dapat memenfaatkan alam sebagai bahan eksplorasi dan media belajar bagi siswa.

Fenomena ini memaksa guru mau tida mau harus berjibaku memanfaatkan media pembelajaran online yang sesuai yang asyik buat semua.

Kejenuhan dan rasa bosan tidak dipungkiri dirasakan Sebagian para guru, ditambah lagi motivasi siswa yang mulai menurun, belum lagi orangtua yang semakin menyerah untuk menjadi mitra BDR para guru di rumah. Kendala lain adalah kuota serta jaringan internet yang tidak bersahabat. Namun menariknya adalah, di daerah yang sama tidak sedikit juga sahabat guru yang mengatakan semakin enjoy mengajar dengan media online karena telah menemukan pola-pola yang klik dengan kebutuhan anak dalam belajar daring.

Agar belajar online tetap efektif dan menyenangkan, maka perhatikan lima hal yang harus dilakukan saat mengajar online.

Resource: Freepik

 

Pertama, Design & Explain Class Rules in the beginning class.

Rancang dan sosialisasikan peraturan kelas. Peraturan yang disepakati Bersama di awal akan menjadi kunci efektivitas dan kondusifitas proses pelajar. Tuangkan dalam tulisan apa yang harus dilakukan oleh siswa, dan tidak boleh dilakukan selama kegiatan KBM online. Misal, wajib masuk sesuai jadwal yang telah ditentukan, sepakati batas toleransi keterlambatan, missal sepuluh menit, maka jika siswa masuk ruangan baik, zoom, G-meet atau media lainnya lewat dari sepuluh menit, maka guru berhak untuk tidak mengizinkannya masuk. Dan pastinya siswa akan lebih sadar dan disiplin terhadap jadwal belajarnya, sekaligus untuk mengasah kemandirian belajarnya. Aturan dan kesepakatan lainnya bisa disesuaikan dengan kondisi guru, siswa dan orangtua di sekolah masing-masing.

 

Kedua, Design interactive learning activity (student centered)

aktivitas belajar yang interaktif, libatkan siswa sesering mungkin selama belajar online.  Tidak sedikit rekan guru terjebak saat mengajar online. Sebagian besar waktu yang dimiliki saat sesi online digunakan seluruhnya untuk menjelaskan materi sepanjang sesi. Siswa dipaksa untuk menyimak pasif dari awal hingga akhir sesi, sehingga tidak jarang siswa ngantuk, bosan dan bahkan mudah terdistraksi untuk melakukan aktivitas lain di saat seharusnya belajar bersama. Untuk menghindari itu semua, sahabt guru perlu merancang aktivitas yang memungkinkan siswa untuk tidak hanya mengaktifkan mata dan telinganya, namun dapat mengoptimalkan semua indranya. Ajak siswa untuk merespon, mengkritisi, berargumen juga menggerakkan angota tubuhnya sesuai dengan topik kegiatan belajar yang sedang dilakukan. Missal saat sedang belajar tentang binatang, ajak siswa untuk menirukan suara atau gerakannya, jika sedang belajar tentang tata surya misalnya, ajak siswa untuk menggerakkan tangan membuat bentuk bulan,matahari dan seterusnya, agar imajinasinya hidup, tubuhnya bergerak, otaknya terstimulus, dan siswa dapat selalu engaged atau terhubung aktif dengan pembelajaran yang kita sajikan.

 

Ketiga, Create Body Movement In Every Session

Ciptakan Gerakan-gerakan tubuh atau anggota tubuh dalam setiap sesi online. Kesehatan dan kebugaran tubuh selama kegiatan belajar mengajat online menjadi isu penting yang perly diperhatikan oleh guru. Seringnya intensitas srcreen time, membuat gerak siswa jadi minim, tulang belakang juga tanpa disadari sering membungkuk saat menatap layar. Oleh karena itu sahabat guru perlu merancang Gerakan-gerakan sederhana yang memungkinkan untuk dilakukan oleh siswa saat belajar online. Akan sangat baik jika Gerakan-gerakan itu disesuaikan dengan topik bahasan materi, seperti yang saya sampaikan di poin kedua. Kalaupun tidak memungkinkan untuk mengintegrasikan bahasan materi ke dalam bentuk Gerakan-gerkan, maka lakukanlah ice breaking. Lakukan Gerakan^Gerakan sederhana  yang unik dan fun untuk memantik ketertarikan siswa saat belajar. Lakukan ice breaking  tiga kali setiap sesi jika memungkinkan, diawal sesi, di pertengahan, dan di akhis sesi.

Keempat, Clarify Each Teacher’s Role.

Perjelas tugas masing-masing guru saat mengajar online. Kasus ni sering terjadi di level SD dan PAUD di sekolah yang biasanya menerapkan dua guru dalam satu kelas. Saat ada dua guru dalam satu sesi online, hindari untuk menjadi guru semua. Biasanya semuanya ingin aktif, ingin menjelaskan, padahal itu dapat menyebabkan siswa jadi bingung dalam mendengarkan dan mengikuti instruksi. Maka pelru disepakati, dalam tiap sesi, subjek materi, siapa yang bertuhas mengajar dan siapa yang bertugas menjadi technical support atau learning facilitator. Guru utama bertugas memipin dan memandu proses belajar, sedangkan guru pendukung berperan untuk membantu teknis seperti, admid siswa, mute & unmute audio, share screen dan sebagainya.

 

Kelima, Set Up Support Background

Siapkan background atau latar yang mendukung. Urusan backround terlihat sepele, namun tidak boleh disepelakan. Banyangkan saat sahabat guru mengajar menggunakan WA video call, zoom, G-meet atau yang lainnya, tanpa disadari di tembok belakang ada pakaian yang menggantung, atau sesuatu yang tanpa kita sadari bisa mendistraksi atau megganggu konsentrasi siswa. Pastikan sebelum memulai mengajar online sahabat guru sudah mengkondisikan benda-benda yang ada di belakang tempat kita akan mengajar. Jika menggunakan zoom, maka sahabat guru bisa terbantu dengan adanya menu virtual background yang memungkinkan sahabat guru untuk membuat tema latas yang sesuai dengan topik bahasan yang akan disampaikan. Missal sedang mengajar tata surya, gunakan visual yang sesuai. Jika akan mengajarkan empati kepada siswa terhadap sesame, maka bisa gunakan latar virtual yang menggambarkan kondisi saudar-saudara yang sedang terkena musibah agar membantu membangkitkan empati siswa melihat realita yang sebenarnya sdang terjadi di luar sana.

https://www.youtube.com/watch?v=vSxhI_fM_Q4&t=3625s

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *