Pak, Saya Lulus Tes CPNS

“Pak, saya lulus tes CPNS.”

Sebagai seorang pimpinan sekolah, respon seperti apa yang akan kita berikan saat ada salah satu guru terbaik di sekolah menghadap dan  tiba-tiba menyampaikan berita, Pak, saya lulus tes CPNS.”?

Sengaja saya angkat tema  ini karena saya meyakini kasus semacam ini sangat mungkin akan banyak terjadi di sekolah-sekolah, terlebih di sekolah swasta, setelah dibukanya lowongan CPNS beberapa bulan yang lalu. Menariknya lagi, momen ini hampir dialami setiap tahunnya mengikuti dibukanya lowongan CPNS nasional.  Setelah pemerintah resmi membuka kesempatan kepada para peminat untuk mendaftar dan melampirkan berkas lamaran secara online, bulan ini di beberapa instansi  sudah masuk tahap SKD, (seleksi kemampuan dasar). Yang artinya dari ratusan ribu bahkan jutaan yang mengikuti seleksi,  banyak yang sudah dinyatakan gugur atau gagal pada tahap seleksi administrasi, ada pula yang berhasil masuk ke fase berikutnya.

Menurut rilis dari  Badan Kepegawaian Nasional (BKN) yang diayangkan oleh Liputan6.com, Jakarta –, jumlah pelamar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2019 mencapai 5.056.585 pelamar. itu artinya animo masyarakt masih cukup tinggi dalam mengejar profesi sebagai pegawai negeri sipil.

Apa itu SKD?

Menurut rujukanyang saya ambil dari https://id.quora.com/Apa-itu-SKD-CPNS?.   SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) adalah sebuah tes yang berada di tahap paling awal setelah peserta tes lulus pada tahap administrasi pada saat akan mengikuti tes CPNS. Satu tes SKD ini terdiri dari 3 bagian, yaitu:

  1. Tes Wawasan Kebangsaan (TWK)
  2. Tes Intelegensia Umum (TIU)
  3. Test Karakteristik Pribadi (TKP)

Nah kali ini saya akan bercerita dan berbagi tentang bagaimana sebaiknya respon kita sebagai pimpinan sekolah yang manakala ada tim kita yang memilih mengadu keberuntungan dengan mengikuti tes CPNS, saat mereka masih dalam keterikatan kerja dengan sekoah yang kita pimpin. Kebetulan  saat ini saya masih aktif bekerja dan berusaha berkarya di institusi pendidikan swasta atau non kepemrintahan, maka mohon ijin saya akan menempatkan diri dari dua sisi pandang; yaitu sebagai pimpinan sekolah dan juga sebagai guru.

                                   Tirto.Id

Sekarang kita coba mulai dari sudut pandang pimpinan sekolah.

Sebagai pimpinan sekolah yang secara kinerja sangat dibantu sekali oleh kontribusi kinerja para guru, maka begitu membaca  berita dibuka lowongan CPNS untuk guru, saya mencoba sebisa mungkin meluangkan momen untuk mengkomunikasikannya dengan tim. Walau kita tidak bisa menjamin semua guru yang mengikuti seleksi CPNS akan terbuka dengan kita, namun setidaknya sebagai pimpinan dan tim kita membuka ruang untuk itu.

Alhamdulillah dari proses itu ada guru yang mengikuti seleksi langsung menghadap dan berbagi cerita tentang visi dan niatannya untuk meningkatkan kapasitasnya sebagai pendidik dengan mengikuti seleksi CPNS ini. Terus, apakah lantas saya marah, mengucilkan guru itu?, InsyaAllah tidak. Dari situ justru semakin terbangun teamwork engagement yang saling terbuka dan berbagi pandangan. Sebagai pimpinan tentu saya harus mencoba menjadi pendengar yang baik, baik dalam konteks personal maupun profesional.  Dari hasil diskusi itu muncul pula topik tentang tanggugjawab pekerjaan,  konsekuensi pilihan, dan lain-lainnya yang berkaitan dengan perkembangan pendidikan.

Sebagai pimpinan sekolah saya sama sekali tidak ada rasa diskriminasi bagi guru yang memutuskan mengikuti seleksi, dari situ saya justru mengambil beberapa pelajaran yang harus dipikirkan dan ditindaklanjuti kedepan, diantaranya:

  1. Kalau sekolah kita berkualitas, dan dihuni oleh individu-individu berkualitas, guru-guru yang pernah mengajar semestinya mudah dan layak bergabung di pemerintahan ataupun lembaga yang lainnya.
  2. Jangan pernah memaksakan guru untuk bertahan selamanya jika belum bisa menjanjikan masa depannya. Kita harus memikirkan jenjang karir guru kita, membuat mereka nyaman dalam bekerja sehingga tanpa diminta mereka akan bekerja dan berkarya maksimal untuk sekolah kita.
  3. Pentingnya memperbaiki sistem regenerasi untuk menghindari bergantung pada satu dua guru. Karena setiap guru berhak memilih masa depannya, bahkan kalau harus memilih memutuskan untuk mendidik anak di rumah dan memfasilitasi kebutuhan keluarga.
  4. Hargai guru yang bersedia mengkomunkasikan niatan ikut seleksi, kalau perlu beri mereka dukungan sebisa kita.
  5. Jika setelah mengkomunikasikannya kemudian guru kita lulus seleksi, persiapkanlah solusi terbaiknya bersama, dan kita patut berbangga karena guru kita dapat bersaing dengan ratusan ribu dan jutaan peserta, dan dia adalah lulusan sekolah kita.
  6. Sekiranya ada guru yang ikut dan tidak mengkomunikasikan rencana hijrahnya, dan tidak lulus seleksi, yang seperti itu layak kita prtimbangkan kelanjutannya.

 

Nah, sekarang bagaimana jika kita dalam posisi sebagai guru yang ingin ikut seleksi CPNS?

Pastinya rekan-rekan guru tidak sedikit yang mengikuti tes CPNS ini dan ingin berkarya sebagai anak bangsa dan mengabdi untuk negeri.  Sangat aman dan baik jika teman-teman saat mengikuti seleksi CPNS ini tidak dalam kondisi bertangggung jawab dan keterikatan kerja.

Bagaimana jika  saat ini teman-teman sedang mendapat amanah dan ketrikatan kerja untuk  mengajar anak-anak di sekolah swasta misalnya. Bolehkan teman-teman mengikuti seleksi CPNS?

Saya rasa itu pilihan teman-teman. Namun, ada hal yang tidak boleh terlewatkan agar kedepan apapun hasilnya, akan menjadi kabar baik bagi semuanya, yaitu dengan mengKOMUNIKASIkannya dengan pihak terkait. Sekiranya teman-teman sudah mantap ingin berjuang di seleksi CPNS, datanglah ke pimpinan atau kepala sekolah masing-masing. Kalau pimpinan teman-teman paham, mereka pasti akan mendengarkan dan bisa menjadi tempat diskusi dan berbagi pandangan yang baik. Akan tetapi jika pimpinan teman-teman langsung tersinggung, lantas tidak merespon dengan baik curhatan teman-teman, berarti rencana teman-teman untuk tes CPNS sudah tepat, lanjutkan!. Tinggal siapkan diri dengan konsekuensi dari kesepakatan kerja bersama yang telah disepakati sebelumnya, (jika ada).

Jadi untuk teman-teman yang berniat atau sudah mendaftar CPNS tahun ini, ada setidaknya lima langkah yang mungkin bisa dilakukan agar semuanya berjalan sesuai dengan yag diharapkan dan baik untuk semua, lima langkah tersebut yaitu:

  1. Luruskan niat, pastikan Lillah wailaih.
  2. Komunikasikan dengan keluarga agar semua ikut mendoakan.
  3. Komunikasikan dengan pimpinan, mohon ijin, mohon doa dan ridho agar sekiranya Allah ijinkan diterima CPNS, semua bisa saling mempersiapkan solusi terbaiknya.
  4. Lakukan yang terbaik di sekolah teman-teman saat ini. “If you can’t be the best in the small place, how can you be the best the the bigger place?”. Kata-kata itulah yang sering saya ucapkan bersama teman-teman di sekolah saya megajar saat ini. Teman-teman harus bertumbuh, harus bisa melebarkan sayap dan terbang setinggi-tingginya. Lakukan yang terbaik disini agar tidak terlalu berat saat ingin melakukan yang terbaik di tempat yang lebih besar.
  5. Optimis untuk niat yang baik, dan percaya dengan kemampuan luar biasa teman-teman. InsyaAllah akan ada hasil terbaik dari usaha terbaik teman-teman semua.

Salam guru hebat guru pembelajar.

Semoga dimanapun  kita berkarya, tetap dalam lurus niat kita membangun generasi bangsa yang cerdas, berprestasi dan berkarakter mulia, Aamiiin…

 

“Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berhasil menjadi tempat curhat dan diskusi aggotanya.”

“Guru yang baik adalah guru yang bisa menjaga komitmen dan amanahnya serta mengkomunikasikan rencana-rencana mulianya.”

Cikeas, Februari 2020

oleh: Hupron Fadilah

Tags: leadership, sekolah menyenangkan Categories: education, joyful school, pendidikan, personal development
share TWEET PIN IT SHARE share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *