Kisah Ayah Teladan di Sekolah

December 10, 2019 628 0 0

Pagi itu sebelum kelas dimulai, ada kejadian di sebuah kelas di sekolah kami. Ada tiga anak laki usia 6-7 tahun yang masih duduk di kelas 1 SD sedang asyik bermain. Mereka sedang bermain jurus-jurusan bela diri, lalu secara tidak sengaja kaki dari salah satu anak yg bermain tersebut mengenai satu anak perempuan yang sedang berada di dekat mereka. Sebut saja anak perempuan mungil itu SA . Benturan cukup keras mengenai hidung SA sehingga langsung keluar banyak darah dari hidungnya. Sontak guru yang melihatnya kaget dan segera membawa SA  ke UKS untuk membersihkan luka dan memastikan SA  mendapat penanganan yang maksimal.

Beberapa guru didampingi satu orang staf kemudian  membawa SA ke  rumah sakit terdekat.

 

Sementara SA sedang dibawa ke rumah sakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut,  satu orang guru di sekolah mencoba menghubungi orangtua SA untuk menjelaskan kronologi kejadian. Tidak hanya orangtua SA, beberapa orangtua yang kebetulan anaknya   ikut bermain pada pagi itu, juga dihubungi oleh guru kelas. Bukan untuk meminta pertanggungjawaban atau apa, tujuannya lebih untuk memastikan orangtua mendapat informasi yang sama, dan dapat memberikan respon yang tepat saat bertemu anak-anaknya.

 

Di kelas, satu orang guru juga langsung mengajak semua anak duduk bersama untuk mendengarkan penjelasan dari beberapa anak yang terlibat dan menyaksikan langsung kejadian tersebut. Hal ini dilakukan agar anak jadi belajar dan menyadari sendiri melalui proses berpikir, bukan dipaksa minta maaf (tapi tidak sepenuhnya mengakui salah). Alhamduillah tiga anak itu menyadari dan mengakui kesalahannya (walaupun ada yang awalnya keukeuh mengatakan tidak sengaja), karena memang mungkin saja faktanya benar-benar tidak sengaja.  Namun pada akhirnya melalui proses pertanyan-pertanyaan dari Ibu Guru, anak-anak tersebut menyadari dan mengakui sebuah kata kunci yaitu,”kalau main kita harus hati-hati.”

 

Tiga anak laki-laki tersebut menyatakan ingin sekali meminta maaf pada SA dan semua anak di kelas sepakat fokus mendoakan agar SA  tidak apa-apa dan cepat sembuh pastinya.

 

Setelah sekitar dua jam, SA pun dibawa kembali ke sekolah dengan wajah tak lagi merintih, meski ada beberapa catatan dan obat dari dokter. Sesampainya di sekolah, sang Ayah sudah menanti karena telah dihubungi oleh pihak sekolah. Sang Ayah menyambutnya dengan pelukan hangat. Memastikan bahwa putri kesayangannya tidak apa-apa sekaligus memberikan motivasi kepada SA untuk tetap kuat dan tersenyum

dan bahkan tidak menyalahkan teman-temannya. Pelukan hangat Ayahnya lah yang mungkin menjadi penyembuh sepenuhhnya  bagi SA hingga  kemudian SA meminta kembali ke kelas untuk bergabung bersama teman-teman. SA pun kembali bermain dan melanjutkan belajar bersama teman-temannya di kelas.

 

Orangtua dari tiga anak laki-laki tersebut juga sudah berada di sekolah dengan wajah gelisah, tiga anak laki-laki yang tadi bermain pun sedang menunggu dengan wajah tidak kalah cemas dari Ayah SA yang anaknya terluka. Mereka ingin sekali meminta maaf pada SA dan Ayahnya. Berbeda dengan orangtuanya, tiga anak laki-laki itu meski dengan niat ingin meminta maaf dan menyesali perbuatannya, tapi masih terlihat senyum-senyum usil (bertanya dalam hati “kamu gapapa kan?..” dan sayang kepada SA yang masih dalam pangkuan Ayahnya. SA pun membalas senyum tiga temannya, (Ahh sweet bgt sih dunia anak-anak).

 

Yang membuat kami jatuh cinta dan super takjub adalah reaksi Ayah SA yang begitu hangat penuh senyum kepada tiga teman-teman SA, terlebih pada putri kesayangannya, SA. Tidak kami dengar satu peryataanpun menyalahkan apalagi ekspresi marah sang Ayah. Yang keluar dari mulut bijak sang Ayah adalah pertanyaan-pertanyaan ringan kepada anak-anak itu, yang membuat ketiga anak itu menyadari apa yang telah mereka lakukan dan jadi paham apa yang selanjutnya mereka lakukan  saat bermain di kelas. Teknik-teknik bertanya seperti itu yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak-anak untuk belajar, bukan sekedar perintah untuk meminta maaf, apalagi menyalahkan dan menyudutkan.

 

Saya yang kebetulan melihat langsung proses itu sungguh telah ikut belajar dari reaksi sang Ayah yang sangat hangat luar biasa, saya yakin sekaligus mendoakan ananda SA dan teman-temannya semua tumbuh menjadi anak yang tangguh, kuat dan hebat melalui pengasuhan yang sangat hangat dari Ayah dan juga Ibunya di rumah. Ijinkan merangkum pembelajaran luar biasa hari ini menjadi sebuah quote singkat; “Perempuan kuat lahir dari Ayah yang hangat.”.

Categories: dunia paud, pendidikan, sekolah menyenangkan, sekolah terbaik, trainer guru
share TWEET PIN IT SHARE share
mas_fadhil

School Leader [Joyful School Trainer] [Certified In Educational Studies In Leadership]

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *