Optimalkan Pendidikan Anak, Sekolah Alam Cikeas Ajak Orangtua Bermain Bersama

November 28, 2019 610 0 1

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hoover dan Sandler dari Universitas Vanderbili menemukan bahwa “Aspek yang paling berpengaruh terhadap kesuksesan pendidikan anak adalah keterlibatan orang tua.”

Oleh karena itu kolaborasi antara guru dan orangtua menjadi sangat penting dalam singkronisasi dan optimalisasi pengasuhan dan pendidikan anak. Hal itu menjadi salah satu konsentrasi kami di PG-TK Sekolah Alam Cikeas dengan terus berupaya mengahadirkan pembelajaran dan program yang dapat menjadi media belajar dan bermain bersama antara anak, guru dan orangtua.

Family Day merupakan kegiatan rutin di level PG-TK Sekolah Alam Cikeas yang dilaksanakan setiap tahunnya.
Untuk tahun ini kami mengusung tema One Fun Day with Family dengan tagline “Menguatkan Bounding Kleuarga Melalui Bermain Bermakna”, yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 23 November 2019.

Pada dasarnya kita semua telah menyadari pentingnya kolaborasi untuk menunjang optimalisasi hasil belajar. Sayangnya, tidak banyak dari kita yang mau dan mampu melakukan proses kolaborasi dalam mengajar. Alasan terfavorit sebagian guru yaitu waktu. Mereka merasa kehabisan waktu untuk mengejar target materi (kognisi) sehingga tidak punya waktu untuk keluar kelas bahkan untuk sekedar berinteraksi dengan warga sekolah. Padahal, sekolah seharusnya dapat mengakomodir kebutuhan siswa untuk berinteraksi dengan masyarakat.

Sekolah merupakan organisasi sosial yang menyediakan layanan pembelajaran bagi masyarakat. Sebagai organisasi, sekolah merupakan sistem terbuka karena mempunyai hubungan-hubungan (relasi) dengan lingkungan. Selain sebagai wahana pembelajaran, lingkungan juga merupakan tempat berasalnya masukan (input) sekolah. (Komariah & Triatna).

Kolaborasi merupakan salah satu bentuk interaksi sosial. Menurut Abdulsyani, kolaborasi adalah suatu bentuk proses sosial, di mana di dalamnya terdapat aktivitas tertentu yang ditujukan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling memahami aktivitas masing-masing.

Kenapa kolaborasi?

Mari kita melihat konteks sekolah kita masing-masing dengan menjawab pertanyaan berikut ini: “Berapa rasio antara siswa dan guru di sekolah Anda?” Jawabannya boleh saja berbeda.

Saat ini saya mengajar di sebuah sekolah swasta yang sudah cukup ideal dalam manajemen rasio antara siswa dan guru. Satu kelas biasanya dihuni oleh 25 sampai 30 siswa. Sedangkan masih banyak sekolah yang dalam satu kelasnya dihuni oleh lebih dari 40 siswa. Bisa Anda bayangkan bukan, jika hanya ada satu guru untuk satu kelas? Faktanya, satu kelas memang hanya dipegang oleh satu guru. Maka, rasionya adalah 1:40. Satu pikiran memfasilitasi 40 pikiran siswanya. Dua  tangan memfasilitasi 80 tangan siswanya. Satu bakat harus memfasilitasi 40 bakat lainnya. Satu mulut untuk menasehati 40 mulut siswanya.

Jika demikian, akankah semua kebutuhan siswa dapat terfasilitasi dengan baik? Berat rasanya memang menjadi guru (jika tidak berkolaborasi). Itulah mengapa penting bagi seorang guru untuk mau dan mampu melakukan kolaborasi-kolaborasi dalam menunjang dan memfasilitasi kebutuhan belajar siswanya.

Sederhana saja, satu guru dengan 40 siswa, mulailah dengan berkolaborasi dengan orangtua siswa. Dengan demikian, rasio guru saja 81: 40 siswa. Loh, 81? Dari mana asal angka 81 itu? Sudah menemukan jawabannya? Ya betul 81 merupakan jumlah dari 40 siswa dikali 2 orangtua (ayah dan ibu) ditambah satu guru maka jumlahnya adalah 81.

TEACHER ISN’T A SUPERMAN because SUPERMAN IS DEAD. Meski agak nyeleneh tapi saya meyakini betul tentang slogan itu karena seorang guru abad 21 tidak akan mampu memfasilitasi kebutuhan setiap siswanya dengan baik tanpa kolaborasi. Terlebih tipikal siswa jaman sekarang yang pintar, cepat menangkap informasi, dan kritis, maka berkoraborasilah!

Bagaimana cara memulai aktivitas kolaborasi?

Kolaborasi dalam dunia pendidikan jelas tidak sama dengan kolaborasi yang dilakukan oleh industri atau perusahaan yang tujuan utamanya adalah meningkatkan profit atau laba perusahaan.  Dalam kegiatan belajar mengajar, kolaborasi bisa dimulai dari lingkungan terdekat, seperti orangtua, staf sekolah, dan mitra sekolah. Kita juga bisa melibatkan instansi-instansi pemerintah dan masyarakat dari mulai RT, RW, Kecamatan, Puskesmas, dan komunitas yang ada di sekitar sekolah.

Dalam hal ini, sebenarnya pemerintah juga telah menginstruksikan semua lembaga pemerintahan untuk bisa saling mendukung, bersinergi, berintegrasi dan berkolaborasi dengan instansi yang lain. Contoh yang belum lama dilakukan serentak secara nasional di penghujung 2017 adalah program imunisasi difteri.

Imunisasi yang sebetulnya merupakan program pemerintah di bawah naungan Kementrian Kesehatan berkolaborasi dengan instansi pendidikan, untuk kemudian dilaksanakan di sekolah-sekolah melalui kerjasama pihak Puskesmas dengan pihak sekolah. Kalau pihak Puskesmas saja bisa berkolaborasi dengan kita untuk efektifitas dan efisiensi programnya, kenapa kita tidak berkolaborasi dengan mereka dan instansi lainnya untuk mendukung pencapaian belajar siswa kita?

Selain instansi pemerintah, warga sekitar juga merupakan sasaran empuk untuk dilibatkan sekaligus menjadi pengaya belajar siswa.

Gambar di atas merupakan sebuah kegiatan belajar anak TK B yang sedang belajar tentang tema “People Around Me“, mereka melakukan observasi tentang orang-orang yang ada di sekolah selain siswa dan guru, juga belajar tentang ragam profesi yang ada di sekolah dan di sekitar sekolah. Mereka bmengunjungi tempat kerja pak Satpam dan Tukan Pos yang berada di dekat sekolah.  Melalui proses belajar semacam ini diharapkan siswa tidak sekedar hafal atau mengetahui, akan tetapi terlatih juga lima keterampilan yang sangat dibutuhkan di abad 21 ini, yaitu critical thinking, leadership, communication, collaboration, creative and innovation.

 

Yang perlu kita sadari betul, sekolah tidak hanya tentang siswa, guru, dan pembelajaran. Yang tidak kalah penting adalah pengaturan lingkungan. Prof. Marsudi Wahyu Kisworo atau lebih akrab dengan sapaan Aryo “ASIK” dalam bukunya yang berjudul Revolusi Mengajar menjelaskan bahwa pengaturan lingkungan adalah proses penciptaan iklim yang baik seperti penataan lingkungan, penyediaan alat, sumber pembelajaran, dan hal lain yang membuat siswa betah serta senang belajar sehingga mereka dapat berkembang secara optimal sesuai dengan bakat, minat, dan potensi yang dimilikinya. Istilah mengajar bergeser pada istilah pembelajaran, yang dapat diartikan sebagai proses pengaturan lingkungan yang diarahkan untuk mengubah perilaku murid ke arah yang positif dan lebih baik, sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki murid. Salah satu aspek lingkungan yang bisa dijadikan mitra atau partner pembelajaran adalah masyarakat sekitar sekolah. Tentunya dengan bentuk kolaborasi yang terencana dan terukur.

Ada tiga alasan utama terkait perubahan yang harus dilakukan guru zaman sekarang dari mengajar menjadi pembelajaran (Marsudi, 2016:43):

Pertama, murid bukan orang dewasa dalam bentuk mini, tetapi mereka adalah organisme yang sedang berkembang. Agar mereka dapat melakukan tugas-tugas perkembangannya, dibutuhkan orang dewasa yang dapat mengarahkan dan membimbing mereka agar tumbuh dan berkembang secara optimal. Tugas dan tanggung jawab guru bukan semakin sempit, tetapi justru semakin kompleks. Guru bukan saja dituntut untuk lebih aktif mencari informasi yang dibutuhkan, tetapi ia juga harus mampu menyeleksi berbagai informasi sehingga ia dapat menunjukkan kepada murid informasi yang dianggap perlu dan penting untuk kehidupan mereka. Guru harus bisa menjaga murid agar tidak terpengaruh oleh berbagai informasi yang dapat menyesatkan dan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mereka. Karena itu, perubahan teknologi menuntut perubahan peran guru. Guru tidak lagi memposisikan diri sebagai sumber belajar yang bertugas menyampaikan informasi, tetapi harus berperan sebagai pengelola sumber belajar untuk dimanfaatkan murid itu sendiri.

Kedua, ledakan ilmu pengetahuan mengakibatkan kecenderungan setiap orang tidak mungkin dapat menguasai setiap cabang keilmuan, begitu hebat perkembangan ilmu biologi, ilmu ekonomi, hukum, dan sebagainya. Apa yang duu tidak terbayangkan, sekarang menjadi kenyataan. Dalam bidang teknologi, begitu hebatnya orang menciptakan benda-benda mekanik yang bukan hanya diam, tetapi bergerak, bahkan bisa menembus luar angkasa. Demikian juga kehebatan ahli yang bergerak di bidang kesehatan yang mampu mencangkok organ tubuh manusia sehingga dapat menambah harapan hidup manusia. Semua di balik kehebatan itu bersumber dari apa yang kita sebut sebagai pengetahuan. Abad pengetahuan itulah yang seharusnya menjadi dasar perubahan. Bahwa belajar tidak sekedar menghafal informasi, menghafal rumus-rumus, tetapi bagaimana menggunakan informasi dan pengetahuan itu untuk mengasah kemampuan berpikir.

Ketiga, penemuan-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru terhadap konsep perubahan tingkah laku manusia. Orang sekarang lebih percaya bahwa manusia adalah organisme yang memiliki potensi, seperti yang dikembangkan oleh aliran kognitif holistik. Potensi itulah yang menentukan perilaku manusia. Oleh karena itu, proses pendidikan bukan lagi memberikan stimulus, tetapi usaha mengembangkan potensi yang dimiliki. Disini, murid tidak lagi dianggap sebagai objek, tetapi sebagai subjek belajar yang harus mencari dan mengontruksi pengetahuannya sendiri, pengetahuan itu tidak diberikan, tetapi dibangun oleh murid sendiri.

Nah, kesemuanya itu tidak akan mungkin dapat terealisasikan tanpa kerja keras guru untuk terus belajar dan bertransformasi untuk terus bisa beradaptasi dengan kondisi siswa saat ini.

Menurut Prof. Dr. Dede Rosyada MA, pendidikan harus dirancang dengan sebuah multiliteracy pedagogical planning dan mempersiapkan peserta didik untuk memiliki berbagai kompetensi sebagai berikut:

  1. Memiliki kompetensi untuk kolaborasi lintas negara, lintas budaya, agama dan bahasa, dan memiliki kompetensi diversity dengan baik, pengetahuan, sikap dan tindakan, sehingga bisa berkolaborasi dengan siapa saja di dunia.
  2. Memiliki kompetensi dalam komunikasi global, bisa menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh masyarakat dunia, baik komunikasi verbal, maupun tulisan, baik dalam aspek reading maupun writing, sehingga bisa menjadi bagian penting dalam sebuah perusahaan industri, jasa, atau lainnya.
  3. Menguasai teknologi informasi dengan baik, untuk akses informasi, komunikasi, penyampaian informasi pada publik dan bahkan juga untuk menyimpan data yang diperlukan untuk dibuka setiap saat, movable, dan bisa diakses kapan saja, di mana saja, sehingga sangat membantu dalam proses pengambilan keputusan.
  4. Memiliki kemampuan critical thinking yang baik, mampu mengubah masalah menjadi kesempatan untuk maju, berpikir kreatif inovatif dan bahkan memiliki kemampuan problem solving yang baik, yang semua ini bisa dikembangkan dengan pelatihan dalam proses pembelajaran, atau pelatihan khusus di luar jadwal rutin mata pelajaran yang biasanya berbasis disiplin ilmu pengetahuan.

Dari keempat skill dasar tersebut, cara termudah untuk mengajarkan kepada siswa kita yaitu dengan cara memberikan tantangan kepada mereka untuk berinteraksi dan menciptakan solusi untuk masyarakat melalui kolaborasi.

So dear teachers, don’t work  yourselves!  Create more collaborations!

Sabtu, 23 November 2019 kemarin, tim Playgroup-TK sekolah alam cikeas mengajar para orangtua untuk bermain, berinteraksi dan berkolaborasi bersama di sekolah melalui ragam permainan dan acara seru yang dirancang untuk anak dan orangtua.

Berikut adalah wajah-wajah gembira saat mengikuti kegiatan Family Day sekolah alam cikeas, “One Fun Day With Family

Tags: buku transformational teaching, joyful school, joyful school trainer, mengajar menyenangkan, sekolah alam cikeas Categories: dunia paud, joyful school, sekolah menyenangkan, sekolah terbaik, transformational teaching
share TWEET PIN IT SHARE share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *