Motivator Tampar Siswa

October 22, 2019 461 0 0

Jika di hampir semua media mengangkat judul “Motivator Tampar Siswa”, mohon ijin saya ingin mengubah subjek judulnya jadi “Siswa Ditampar Motivator”. Mari kita mulai pembahasan kita dengan dua pertanyaan :

  1. Kenapa sang motivator harus menampar?
  2. Kenapa siswa sampai ditampar?

Dua pertanyaan tersebut jika kita coba analisa jawabannya masing-masing merujuk ke sudut pandang yang berbeda, meski kejadiannya sama. Yaitu tentang motivator yang menampar siswa. Pertanyaan no 1 lebih kepada alasan sekaligus pembelajaran untuk pelaku. sedangkan pertanyaan no 2 lebih kepada alasan, sebab akibat terjadinya penamparan yang mugkin saja dari siswa itu sendiri. Dan semestinya kita para orangtua dan para guru di sekolah untuk bisa menjadikan kejadian ini sebegai pembelajaran untuk anak-anak baik di sekolah maupun di rumah.

Tentang Murid yang ditampar

Beberapa hari terahir media kita diramaikan dengan berita tentang penamparan sepuluh siswa oleh Motivator Wirausaha atas dasar kekesalan menertawakan slide salah ketik yang dilakukan oleh operator yang merupakan guru mereka sendiri.

Dari beberapa sumber berita yang saya baca, subjek beritanya semua tentang siapa yang menampar. Yaps, hingga hari ini update terakhir sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf  di depan media didampigi oleh beberapa petugas kepolisian paska penangkapannya di suatu tempat. Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander mengatakan, kasus ini sudah dalam tahap penyidikan. Pelaku dijerat dengan Pasal 80 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara. Selain sanksi pidana, sudah pasti berdampak pada sanksi sosial yang diterima oleh pelaku yang sangat mungkin juga berdampak pada keluarga pelaku.

Ada satu sumber berita juga yang menyampaikan tentang keterlibatan atau kontribusi pihak komnas anak yang akan memberikan pendampingan kepada siswa yang menjadi korban untuk mendapatkan trauma healing.

Nah, kembali ke judul yang saya tulis yaitu tentang siswa yang ditampar. Kenapa siswa yang ditampar, bukan guru yang menampar judulnya?. Sebenarnya secara makna berita  sama saja artinya, akan tetapi lebih kepada subjek yang menjadi topik bahasan.  Saya rasa lebih dari cukup pembelajaran yang didapat atau diganjarkan kepada pelaku yang menampar, dari mulai hukuman pidana, sanksi sosial, dan menurunnya kepercayaan mitra dan calon mitra pastinya.

Kali ini saya ingin menyampaikan sudut pandang pribadi, tanpa adanya intervensi, atau kepentingan pribadi, murni melihat kejadian ini dari sudut pandang umum (see from the drone). Kebetulan saat ini saya berprofesi sebagai guru, sejak 2005 saya mengajar di berbagai jenjang pendidikan di wilayah jabodetabek. Kurang lebih 14 tahun mencoba memhami ragam karakter siswa, dari mulai SMA, STM, SMK sampai TK dan pastinya dengan penanganan yang beragam pula.

Awal-awal mengajar di jenjang SMK, pernah beberapa kali disengaja dan tidak disengaja saya melakukan teguran yang cukup keras, memasang raut marah untuk menunjukkan bahwa saya menekankan kepada siswa bahwayang mereka lakukan salah. Alhamdulillah walaupun punya peluang untuk menggunakan fisik tetapi belum sampai kejadian, meski pas duduk di bangku sekolah dulu sempat merasakan belajar disiplin dll dengan harus merasakan sedikit pukulan. Tapi Alhamdulillah tidak ada dendam sediktippun terhadap guru-guru kami dan bahkan sampai saat ini masih sesekali melakukan komunikasi.

Kembali ke judul, siswa yang ditampar, boleh lah sesekali kita bertanya “Alasan mereka dipukul”? Bukan ingin mmebenarkan pemukulannnya, jelas itu salah besar. Akan tetapi kita, guru, orangtua, siswa, dan masyarakat pada umumnya harus bisa lebih bijak dalam  merespon sebuah kejadian. Terkait alasan penamparan, berikut penutran pelaku yang saya kutip dari https://www.inews.id/daerah/jatim. Pelaku mengungkapkan, kekhilafannya berawal atas sikap para siswa yang menertawakan guru mereka yang bertugas sebagai operator slide saat dirinya menyampaikan materi. dimana guru tersebut salah menuliskan kata yang kemudian ditertawakan.

“Saya sebelumnya pernah sampaikan jika ada yang berbuat salah akan saya tampar. Di situ saya khilaf. Saya mau kalau ada yang salah jangan ditertawai. Tapi saat itu operator yang juga guru mereka salah nulis dan ditertawai. Saya khilaf hingga terjadi seperti itu,” katanya.

Nah, dari pengakuan tersebut, saya sendiri ikut menyayangkan atas respon yang dilakukan oleh pelaku, jadi saya ucapkan selamat belajar dari kesalahan ya pak.

Lanjut, kita sekarang fokus kepada siswa yang ditampar dan juga reaksi orang-orang yang berada di lingkungannya, sekaligus apa yang perlu kita sampaikan kepada anak-anak terkait kejadian ini. Saran yang sya tulis adalah saran yang fokus diperuntukkan kepada anak-anak atau siswa, baik yang menjadi korban atau siswa dan anak-anak kita di rumah.

Nilai apa yang perlu kita tanamkan untuk anak-anak?

Menghargai

Akhir-akhir ini, kita dikejutkan dengan sebuah fenomena siswa yang tidak lagi menghargai guru. Ada banyak berita siswa  melaporkan gurunya sendiri dengan tuduhan gurunya berbuat kekerasan. Bahkan, ada murid yang berani menuntut ke polisi karena menurutnya guru tersebut melakukan tindakan kekerasan. Dengan dalih perlindungan anak yang tertuang di pasal 80 ayat 1 UU No. 35 Tahun 2014 yang berbunyi “Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan, atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000,- (tujuh puluh dua juta rupiah).”

Jika kita para orangtua tidak jeli dan serius menyikapi ini, maka akan semakin marak generasi manja, bertingkah laku di kelas seenaknya, akan tetapi ketika guru ingin mendidik justru malah kena batunya.

Maka sebaiknya, kita bersama perlu terus mengingatkan anak-anak kita untuk lebih menghargai gurunya, menjaga budi pekertinya, agar terjalin komunikasi dan proses belajar yang lebih optimal antara guru dan siswa.

Adab Dulu Baru Ilmu

Di era modern seperti saat ini, tidak jarang kita menemukan banyak oramg berilmu namun tidak memiliki akhlaq yang baik. Sebagai contoh saja, para pemimpin negeri ini yang notabennya berasal dari kalangan intelektual malah terlibat kasus korupsi yang jelas jelas mencuri uang rakyat. Hal ini menunjukkan pendidikan tinggi tidak selalu otomatis menjadikan seseorang menjadi beradab. Terlebih dengan perkembangan teknologi informasi dimana seorang murid dapat dengan mudah mengakses informasi dengan mudahnya. Kecepatan mereka dalam menguasai ilmu jangan sampai membuat anak-anak kita jadi mudah tergoda untuk ujub, sombong, merasa sudah mengerti dan akhirnya tidak respek dengan guru mereka.

Sebagaimana cara agar tidak terkena penyakit hati .  Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahumullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Dari Ibrahim bin Habib berkata, ayahku  berkata:

“Hai anakku, datangilah para fuqaha dan para ulama. Timbalah ilmu dari mereka. Seraplah adab, akhak dan hidayah mereka. Hal itu lebih aku sukai daripada mencari banyak hadits.” (Al Khatib Al Baghdadi, Al Jami’ li Akhlaq ar Rawi wa Adab As Sami’, tahqiq DR Mahmud Ath Thahhan 1/80)

Hadist diatas menegaskan bahwa islam menegaskan keutamaan untuk mempelajari ilmu mengenai adab dibandingkan mempelajari ilmu. Sebab kini banyak orang yang berilmu namun tidak memiliki adab yang baik baik kepada orang tua, tetangga ataupun saudara sendiri. Oleh sebab itu, mempelajari adab merupakan hal yang harus diutamakan.

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita para guru dan orangtua untuk fokus memberikan pengertian dan pendampingan anak untuk lebih memprioritaskan adabnya, tutur ucapnya, tingkah lakunya, dan pergaulannya dengan sesama sesuai dengan norma.

Sebagai penutup dari saya, pelaku sudah bertanggung jawab dan menanggung perbuatannya, dan semoga ybs bener-bener belajar dari kesalahannya, nah sekarang tinggal tugas kita semua nih untuk membuat anak-anak kita, siswa-siswa  kita belajar dari kejadian tsb. Hargai guru, dahulukan adab sebelum ilmu, InsyaAllah dengan begitu anak-anak kita bisa mmeraih suksesnya tidak hanya di dunia tapi akhiratnya juga, Aaamiin.

Categories: education, motivator muda berdaya, pendidikan, personal development
share TWEET PIN IT SHARE share
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *