Why Is Listening Important?

Ibarat seorang bayi yang baru lahir, maka indera-inderanya akan bekerja secara alamiah, telinganya secara otomatis akan menangkap suara-suara yang ia dengar dari sekitarnya. Sumber suara dari sekitarnya seperti panggilan dan nyanyian ibunya saat menyusui dan menidurkan, suara kakak dan warga rumah yang ada saat mengajak bermain dengannya. Suara atau bisikan yang ia dengar berulang-ulang kemudian sebagian suara yang ia dengar terekam di memorinya. Meski sang bayi belum menyadari proses itu akan tetapi sebenarnya disitulah terjadi proses awal dia belajar. Secara bertahap si bayi akan mengucapkan kata per kata yang paling familiar, seperti “mama, papa dan sejenisnya.

Proses tersebut memberi jawaban bahwa seorang bayi saja dengan tanpa direncanakan, ketika dia mendengarkan macam suara tanpa rencana, ia telah belajar hal yang baru, berupa kata. Entah si bayi sudah mengerti atau belum maknanya, yang jelas si bayi telah belajar menyebutkan kata per  kata yang ia dengar. Meksi masih sebatas HEARING, belum sampai ke tahap LISTENING setidaknya si Bayi sudah bisa belajar.

Lalu bagaimana dengan berbicara? Apakah dengan berbicara manusia tidak bisa belajar?

Ya tentu saja kita juga tetap  bisa belajar dengan berbicara. Akan tetapi perlu beberapa tahapan atau proses untuk bisa belajar dari berbicara dan tidak bisa langsung belajar pada saat kita berbicara. kita baru bisa belajar dari proses bicara kita dengan terlebih dahulu mendengarkan masukan atau feedback dari orang lain. Nah, berbeda dengan mendengar, setiap mendengarkan sesuatu, pada saat itu  juga kita bisa dan sedang belajar sesuatu yang baru. Setidaknya kita mendapat informasi baru, data baru, fakta baru, semangat baru pada saat kita mendengar orang lain berbicara.

Dalam sebuah artikel yang berjudul “Why is listening importan?” yang direlase di https://www.alchemyformanagers.co.uk/topics/tv8zhuMZpZEzsgNc.html tertulis bahwa  To be an effective speaker you have to take feedback from the audience (listen to them, in other words) and adjust your presentations according to what works most effectively for them. Secara bahasa bisa diartikan bahwa untuk menjadi pembicara yang efektif, Anda harus mengambil umpan balik dari audiens (dengarkan mereka, dengan kata lain) dan sesuaikan presentasi Anda sesuai dengan apa yang paling efektif untuk mereka. intinya sekeren-kerennya seorang pembicara tetap perlu belajar melalui mendengar, yaps, mendengar umpan-balik atau masukan dari para audiens atau calon audiens mereka agar pada saat berbicara dapat lebih efektif sesuai dengan kebutuhan audiens. 

 

Dalam berorganisasi atau dalam berbisnis, setidaknya ada alasan kuat kenapa listening itu penting, pakai banget, di antara manfaatnya yaitu:

  • Tanpa mendengarkan, tidak ada organisasi yang dapat beroperasi secara efektif, atau pada akhirnya bertahan. Mendengarkan secara efektif memberikan informasi yang diperlukan untuk memungkinkan organisasi beradaptasi untuk memenuhi perubahan kebutuhan pelanggan dan mengikuti tren pasar.
  • Mendengarkan dengan baik dan pertanyaan yang terampil memberikan pesan yang kuat kepada mereka yang berinteraksi dengan Anda. Mereka sangat meningkatkan kapasitas Anda untuk memengaruhi, memotivasi, mengembangkan atau melayani orang secara efektif.
  • Mendengarkan dan bertanya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sebagian besar kecakapan hidup, dasar interaksi manusia, dan faktor utama dalam keberhasilan seorang komunikator yang baik.
  • Mendengarkan dengan baik memungkinkan kita untuk menunjukkan bahwa kita memperhatikan pikiran, perasaan, dan perilaku orang lain (melihat dunia melalui mata mereka). Ini sangat penting untuk menjaga hubungan yang produktif, dan kadang-kadang satu-satunya cara untuk membangun komunikasi.

Dean Graziasi, seorang pembicara international, coach dan mentor bisnis pernah berkata, ada dua tipe orang di dunia ini yaitu, satu berperan sebagai battery charger  (penambah daya baterai) dan satu lagi berperan sebagai battery drainer (pelemah baterai). Dan mereka semua nyaris ada di lini kehidupan kita semua, baik di rumah, di sekolah lingkungan kerja dan di luaran sana.

Seringkali kita mendengar informasi atau apapun itu dari orang-orang sekitar kita yang setiap kali kita dengar, selalu membawa semangat positif, selalu membangkitkan semangat kita untuk berprasangka dan berbuat hal-hal positif yang membangun. Namun ada juga orang-orang yang lebih sering menyampaikan informasi yang justru melemahkan kita, membuat kita jadi membenci, menularkan energi negatif, yang bahayanya, kita terkadang tidak  menyadari itu. Nah, jika mendengar yang semacam itu, dengarkan saja sebagai wujud atau rasa menghargai Anda, namun abaikan  kalau perlu lupakan segera informasinya, sehingga Anda tetap dengan baterai penuh untuk melakukan hal-hal positif demi tujuan yang ingin dicapai.

Dan Anda pun bisa menentukan diri Anda sebagai tipe orang yang mana, battery charger atau battery drainer. Kaau pesan Dean sih “Be Battery Charger for Others, Don’t be Battery Drainer!”

 

Tags: leadership, transformational teaching Categories: joyful school, motivator muda berdaya, pendidikan, personal development
share TWEET PIN IT SHARE share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *