Membangun Budaya Positif di Lingkungan Kerja

September 4, 2019 117 0 0

Membangun Budaya Positif di Lingkungan Kerja

Membangun budaya dalam lingkungan kerja tidak semudah mengajarkan ketrampilan baru pada talent dalam lingkungan kerja. Perlu kesabaran dan strategi khusus yang harus dibangun. Dalam hal ini pimpinan atau para leaders tidak hanya dituntun untuk mencontohkan dan mengawasi, lebih penting dari semua itu yaitu membangun pola fikir baru yang akan mendorong setiap anggotanya bekerja maksimal dengan dorongan yang kuat dari dalam diri mereka.

Nah, dalam membangun budaya perlu kesabaran dan konsistensi  dari semua elemen, oleh karenanya, membangun budaya postif tidak dianjurkan untuk dilakukan secara borongan (membangun budaya-budaya baru dalam satu waktu). Membangun budaya positif sebaiknya dimulai satu per satu sampai betul-betul mengendap pada pola pikir dan pola tindak setiap anggota. Nah, kali ini saya akan memulainya dengan satu budaya positif yang sangat perlu dibangun di dalam lingkungan kerja, yaitu budaya umpan balik antar sesama anggota, atau lebih dikenal dengan istilah feedback.

Apa itu feedback?

Well, Secara harafiah, feedback jika diterjemahkan langsung dari bahasa Inggris ke dalam bahasa indonesia. Maka feedback dapat berarti juga sebagai umpan balik.  Apa itu yang dimaksud dengan umpan balik ?. Umpan balik adalah suatu tanggapan dari apa-apa yang sudah dirasakan oleh individu atau seseorang terhadap sesuatu. Sesuatu tersebut dapat berupa produk / barang, jasa, hasil kerja, tingkah laku, dan lain sebagainya.
Intinya, feedback atau umpan balik ini merupakan suatu respon tanggapan yang diberikan oleh seseorang. Tanggapan tersebut dapat berupa masukan yang positif, kritik atau juga tanggapan yang negatif / komplain dan sebagainya. Bisa dipahami lah ya?

Dalam banyak kajian ilmu, salah satunya dalam ilmu komunikasi, ada beberapa jenis feedback. Tapi disini saya ndak akan membahas hal tersebut, teman-teman bisa cari sendiri referensinya di buku maupun artikel-artikel yang ada di internet. Nah, dalam sebuah organisasi, feedback sangat diperlukan untuk terus melakukan perbaikan sekaligus membuka peluang ragam sudut pandang. Untuk itu penting banget membangun budaya saling umpan balik dalam organisasi kita.

Nah, sayangnya, feedback masih menjadi hal yang menakutkan bagi orang-orang yang cenderung memiih zona nyaman dan orang-orang yang baperan, karena feedback itu memang sebaiknya jujur dan blak-blakan, pahit sih memang, tapi sebenarnya itu semacam jamu yang begitu menyehatkan. Feedback justru nutrisi banget bagi orang-orang yang memiliki open minded.

Ken Blanchard mengatakan “Umpan balik itu adalah sarapan bagi para pemenang.”. Orang-orang yang memiliki jiwa pemenang, orang-orang pembelajar, mereka justru menjadikan umpan balik sebagai menu sarapan, sebagai bahan bakar untuk melakukaan perbaikan.

Nah, teman-teman, yuk sekarang kita belajar bagaimana memberikan umpan balik yang efektif dan membangun. Menurut sumber https://insightsresources.seek.com.au, ada tujuh cara untuk memberikan feedback yang membangun. Berikut adalah beberapa tips tentang cara memberikan umpan balik yang membantu karyawan mengenali dan menghindari kesalahan mereka, dan menginspirasi mereka untuk mencapai potensi penuh mereka.

  1. Berfokus pada masalah dan spesifik

Selain memberi tahu karyawan apa yang harus mereka lakukan dengan lebih baik, beri tahu mereka alasannya. Misalnya, memulai percakapan dengan “Anda harus masuk ke kantor lebih awal” mengasumsikan bahwa mereka tahu mengapa ketepatan waktu sangat penting. Perjelas tentang masalah aktual yang ada (mis. Anda tidak ingin membuat pelanggan Anda menunggu), dan menyusun umpan balik Anda di sekitarnya. Juga, jangan selalu berasumsi bahwa karyawan memiliki semua informasi latar belakang yang mereka butuhkan. Jika perlu, beri tahu mereka bagaimana situasinya memengaruhi Anda dan seluruh bisnis. Semakin spesifik Anda membuat umpan balik, semakin dapat ditindaklanjuti.

      2. Bicara tentang situasinya, bukan individu

Pada dasarnya, umpan balik konstruktif berfokus pada hasil dan pengamatan yang tidak memihak daripada atribut pribadi karyawan. “Presentasi Anda membuat banyak orang tertidur” cenderung dianggap sebagai serangan yang dimotivasi oleh perasaan pribadi daripada fakta objektif. Dengan membahas situasi itu sendiri daripada pendapat pribadi Anda tentang hal itu, Anda menunjukkan bahwa Anda paling peduli untuk memperbaiki masalah yang dihadapi, bukan kepribadian karyawan itu sendiri.

     3. Berikan pujian di tempat yang seharusnya

Menenun beberapa hal positif di antara yang negatif bisa menjadi cara yang baik untuk meyakinkan karyawan bahwa Anda tidak kehilangan perspektif. Misalnya: “Saya pikir Anda melakukan pekerjaan yang hebat dengan akun ini. Penjualan naik 13% sejak kuartal terakhir. “Kemudian Anda dapat mulai berbicara tentang area yang perlu ditingkatkan:” Namun, kami memiliki beberapa pelanggan yang memberi tahu kami bahwa waktu respons telah meningkat. “Ini memberi tahu karyawan bahwa Anda tidak mengkritik kinerja keseluruhan mereka; Hanya saja aspek-aspek tertentu dari pekerjaan mereka perlu diperhatikan. Berhati-hatilah untuk tidak terlalu menekankan hal-hal positif, karena ini dapat membuat Anda tampak tidak pasti atau tidak tulus.


     4. Tegas namun dibuat santai

Usahakan untuk tidak menggunakan teknologi seperti email, pesan teks atau telepon untuk menyampaikan umpan balik Anda, karena ini dapat menyebabkan salah tafsir dan membuatnya tampak kurang penting daripada sebenarnya. Temukan ruang rapat yang tenang tempat Anda dapat melakukan obrolan satu lawan satu yang jujur ​​dan informal dengan karyawan. Pada saat yang sama, cobalah untuk tidak bertele-tele; apakah itu positif atau negatif, umpan balik konstruktif paling efektif ketika Anda langsung ke intinya.

     5. Sampaikan dengan Tulus

Jika nada dan cara Anda tidak sesuai dengan konteks umpan balik itu sendiri, Anda bisa mengirim pesan campuran yang membingungkan penerima. Jika umpan baliknya positif, biarkan emosi Anda juga menunjukkan bahwa Anda menghargai upaya mereka. Untuk umpan balik negatif, nada yang lebih peduli akan menunjukkan bahwa Anda yakin masalahnya harus ditanggapi dengan serius. Yang paling penting, selalu berusaha untuk menghindari menampilkan emosi negatif seperti kemarahan, sarkasme atau kekecewaan, karena mereka cenderung dianggap sebagai kritik pribadi.

     6. Mendengarkan

Saat memberikan umpan balik yang konstruktif, pastikan bahwa staf diberi kesempatan untuk merespons. Ini menunjukkan bahwa Anda siap mendengarkan keprihatinan mereka dan interpretasi mereka atas peristiwa. Ini juga dapat digunakan sebagai kesempatan bagi karyawan untuk mengekspresikan ide-ide mereka dan menjadi bagian dari solusi.

     7. Jadikan tepat waktu

Selalu berusaha memberikan umpan balik positif ketika prestasi terpuji karyawan masih segar dalam ingatan setiap orang. Hal yang sama berlaku untuk umpan balik negatif – dengan pengecualian bahwa jika mereka telah melakukan sesuatu yang membuat Anda merasa benar-benar buruk, mungkin bijaksana untuk menunggu sampai Anda telah “tenang” sebelum mengambilnya. Ini akan membantu memastikan bahwa umpan balik Anda objektif dan tidak diwarnai oleh emosi. Jenis umpan balik konstruktif terbaik adalah yang berfokus pada perilaku, bukan kepribadian. Itu diberikan dalam nada dan pengaturan yang menyampaikan dukungan dan rasa hormat. Juga perlu diingat bahwa kita semua berkembang dalam penguatan positif, jadi jangan berasumsi bahwa karyawan akan selalu tahu ketika mereka berkinerja baik – keluar dan beri tahu mereka. Baik itu positif atau negatif, memberikan umpan balik konstruktif yang berkelanjutan kepada staf adalah salah satu alat pengembangan karyawan yang paling penting dan kuat yang Anda inginkan.

So, buat teman-teman yang ingin terus bertumbuh dimanapun teman-teman berkarya, yuk budayakan saling memberi umpan balik dan jangan lelah melakukan perbaikan. Bahkan manusia sekelas Bill Gates saja masih terus mengharapkan umpan balik dari tim dan mitra bisnisnya. Bill Gates mengatakan bahwa “Kita semua memerlukan orang-orang untuk memberikan kita umpan balik. Itu semua yang akan membuat kita bertumbuh.”.  So please gaeees terbukalah terhadap umpan balik,lakukan terus perbaikan dan jangan gampang baperan.

Tags: Karakter, leadership Categories: personal development, trainer guru, transformational teaching
share TWEET PIN IT SHARE share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *