Bahaya Penyakit “Merasa Lebih Baik”

August 8, 2019 122 0 5

Bahayanya Penyakit Merasa

Anda punya teman yang selalu merasa benar?, merasa lebih baik?, merasa lebih ngerti dalam setiap forum diskusi atau super susah saat dinasehati?. Please, kalau memang ada teman atau rekan kerja yang memiliki semacam itu jangan kebawa baper!, Yaps, Anda jangan baper trus kebawa keseringan ngomongin tu orang.

Mulai sekarang STOP ngomongin tu orang!, apalagi ngomongin kejelekannya, yang ada malahan ngumpul di kita semua nanti dosanya. Teruslah sampaikan hal-hal baik, ingatkan jika sekiranya ada momen yang pas buat mengingatkan, kalau ndak ya, jgn dipaksakan. Oia, jangan lupa didoakan juga yaa…. _-)

KHAWATIRlah jika penyakit merasa itu ada pada diri Anda. Merasa lebih tahu, merasa lebih rajin, merasa lebih paham masalah, merasa lebih ngerti solusi dan merasa-merasa lebih dari yang lainnya.  Kenapa Anda perlu khawatir?. Yaps, wajar dan sudah seyogyanya anda khawatir, dan bisa dikatakan kita harus kita khawatir kalau penyakit itu mengidap pada kita. Kenapa?

Karena siapapun yang mengidap penyakit merasa itu, sejatinya tidak terlalu membahayakan rekan-rekan atau orang-orang di sekelilingnya (asal jangan kebawa baper). Yang rugi sebenarnya  adalah perusahaan(jika to orang bekerja).Perusahaan yang sudah membayarnya, membayar orang yang susah mendapat masukan untuk pertumbuhan perusahaan.  Dan yang paling dirugikan sebenarnya adalah bukan siapa-siapa melainkan dirinya sendiri. Sebab, feeling better than others is one of the most dangerous disease that could stop you to grow;  penyakit merasa lebih baik dari orang lain adalah salah satu penyakit paling berbahaya yang bisa menghambat pertumbuhannya secara total. 

Dalam  kata lain, orang yang sudah mengidap penyakit Gede Rasa Kronis ini kapasitasnya akan segitu-segitu aja. Mustahil bertumbuh dan berkembang karena sudah menguncinya hatinya mengunci otaknya dengan MERASA.

Terkait dengan bahaya dan buruk nya perilaku merasa paling benar, Ra sulullah SAW memberikan peringatan kepada umatnya melalui suatu kisah yang terkandung dalam salah satu hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Ahmad.

Alkisah, ada dua orang bersaudara dari kalangan Bani Israil dengan sifat yang sangat kontras. Satu di antara me reka sering berbuat dosa, sementara yang satu lagi sangat rajin beribadah. Suatu ketika, rupanyanya si ahli ibadah selalu menyaksikan saudaranya itu selalu melakukan dosa, hingga lisannya tak betah untuk tidak menegurnya.

Teguran pertama pun terlontar: “Berhentilah!” Teguran seolah tak memberikan efek apa pun dan hanya masuk melalui telinga kanan keluar lagi lewat telinga kiri, perbuatan dosa tetap berlanjut dan sekali lagi tak luput dari pantauan saudaranya yang rajin beribadah.

“Berhentilah!” ujarnya untuk kedua kali. Si pendosa lantas berucap: “Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasi ku?” Mungkin karena sangat kesal, lisan saudara yang ahli ibadah itu tibatiba mengeluarkan ucapan kecaman yang berbunyi: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Pada bagian akhir, hadis tersebut memaparkan, tatkala keduanya meninggal dunia, keduanya pun dikumpulkan di hadapan Allah SWT. Kepada yang rajin beribadah, Allah mengata kan: “Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?” Drama keduanya pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan. “Pergi dan ma suklah ke surga dengan rahmat-Ku,” kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada si ahli ibadah, Allah mengatakan: “Wahai malaikat giringlah ia menuju neraka.”

Poinnya mah, yang ahli ibadah aja gak boleh merasa, apalagi kita gaeezz?.

Islam sebagai agama yang humanis mengajarkan kepada umatnya agar terhindar dari perilaku merasa paling benar dan diperintahkan untuk selalu melakukan koreksi diri (muhasabah) serta meluruskan niat untuk kebaikan daripada mencari kesalahan pribadi orang lain yang belum tentu lebih buruk di hadapan Allah SWT.

Terakhir mari kita berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala, semoga Allah hindarkan kita dari penyakit merasa agar kita semua sentiasa lebih mudah menerima ilmu-ilmu baru serta nasihat-nasihat dalam kebaikan, Aaamiin ya Rabbal ‘Alamiiin…

Tags: hupron fadilah, mengajar menyenangkan, motivator Categories: personal development
share TWEET PIN IT SHARE share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *