Kenapa Harus (Bersyukur) Jadi Guru PAUD?

July 26, 2019 291 0 3

Sejak tahun tahun pertama masuk kuliah jurusan pendidikan, tepatnya di tahun 2005, Allah sudah memberi kesempatan saya untuk menyampaikan ilmuNYA dengan menjadi seorang pengajar.

Empat tahun pertama (2005-2009), saya berkesempatan mengajar sesuai dengan bidang yang sedang saya pelajajari di kampus yaitu, Bahasa Inggris. Sempat setahun pertam mengajar di bebrapa lembaga bimbel, SMAN 98 Jakarta, SMAN 1 Parung-Bogor, SMKN 40 Jakarta, SMK Ganesa Satri dan beberap sekolah menengah pertama.

Awal tahun 2019, saya mendengar bahwa ada sekolah yang belajarnya di sawah, sekolah yang banyak belajar di luar kelas, sekolah yang anaknya suka main sama binatang macam kambing, sapi dan kawan-kawannya. Namanya adalah Sekolah Alam. Dulu sekolah alam belum sepopuler dan sebanyak saat ini,baru ada beberapa saja. Nah kebetulan sekitar bulan Juni 2009 mendengar kabbar ada lowongan mengajar di salah satu sekolah alam yang terletak di ujung Cibubur, tepatnya  di Jl. Letda Natsir, Desa Nagrak, Kecamatan Gunungputri Bogor, yaitu Sekolah Alam Cikeas.

Nampaknya bukan hanya saya yang tahu kabar lowongan itu, ternyata setelah mengirim lamaran, dan dipanggil untuk proses wawancara dan tahanpan lainnya, saya harus bersaing dengan belasan kawan-kawan dari lulusan Sarjana Pendidikan dari PTN ternama di Jakarta untuk memperebutkan 1 kursi, ca ilaah kursi, DPR kali ya.  Ada satu kawan yang berasal dari PTS juga, cuma bedanya dia sudah punya ijazah, sedangan aku masih belum keluar ijazah S1’nya.

Alhamdulillah Qodarulloh, setelah kami semua mengikuti serangkain seleksi dari mulai tertulis,sampai FGD, sesampainya di rumah (kontrakan maksudnya), ada telpon dari pihak sekolah yang menyampaikan bahwa saya lolos seleksi untuk kemudian datang kembali ke sekolah untuk penentuan kelas, kontrak kerja dll.

Setelah selesai menyelesaikan masalah kontrak dll, saya diminta bertemu ibu Direktur terkait informasi tugas mengajar di Sekolah Alam Cikeas. And you know what? Dengan lembutnya si ibu Direktur menyampaikan ke saya, “Pak Fadhil, untuk tahun ajaran 2019/2020 ini (minggu depan), Bapak mengajar di TK ya…”

What?  TK?  Kaget, galau, sekaligus disaat yang sama merasa TERTANTANG untuk mencoba sesuatu yang baru. Yang sebelumnya mengajar anak-anak SMA, SMK,SMP, STM bahkan, tahun ini harus mengajar anak TK. Finally, perjalanan itu dimulai, memulai sesuatu yang dibilang baru. Tahun pertama mengajar di TK, tahun kedua ketiga mengajar di SD, tahun keempat bantu ngajar di SMP, sampai akhirnya tepat di tahun 2013 saya mendapat kesempatan untuk belajar banyak tentang dunia anak usia dini selama tiga tahun menahkodai Playgroup dan Taman Kanak-kanak di Sekolah Alam Cikeas. Kemudian 2017-2019 mendapat tantangan kembali yang cukup menantang dengan mendesain, membuka dan menahkodai Sekolah Menengah Pertama, yang alhamdulillah saat ini sudah memiliki tiga kelas.

Qodarulloh, tahun ini kembali mendapat kesempatan kembali untuk membersamai teman-teman di Playgroup dan TK berkolaborasi dengan para orangtua untuk mendesain dan menjalankan pendampingan terbaik untuk anak-anak.

 

Lalu, kalau kembali ke judul yang saya tulis, “Kenapa Harus (Bersyukur) Jadi Guru PAUD?

Sedikit lagi saya share tentang sudut pandang dari pengalaman mengajar di hampir semua level pendidikan, kesmuanya itu memiliki tantangan tersendiri. Ngajar anak-anak, enak di sisi ini, kurang enak di sisi itu. Ngajar remaja menarik di sisi ini, kurang menarik di sisi sebelah sana. Intinya selalu ada sisi yang harus kita pelajari dan tingkatkan di setiap levelnya.  Saat ini saya sedang tertarik melakukan observasi dan inovasi cara terbaik untuk mengajar anak jaman now, yang Alhamdulillah dari belajar ke banyak guru, Strategi Mengajar Menyenangkan untuk Anak Jaman Now, sudah sayarangkum dalam buku kedua saya yang berjudul “TRANSFORMTIONAL TEACHING”.  Yang minat untuk baca/beli bukunya bisa email kesini ya fadilahhupron@gmail.com

Nah, teruskenapa sih jadi guru PAUD itu harus lebih bersyukur?. Guru itu adalah profesi yang sangat mulia. Kenapa disebut sangat mulia? Guru itu tidak sekedar menyalurkan imua,bukan sekedar melatih ketrampilan, lebih dari itu, tugas utama guru adalah membenagun karakter, membangun budi pekerti. Dan mengajar di Anak Usia Dini adalah kesempatan untuk terbaik dan termudah dalam mengintervensi budi pekerti. Jadi sudah paham kan maksud dari  judulnya?

Kenapa sih para guru PAUD harus lebih bersyukur, karena dengan tulus memberikan pengajaran dan pendampingan terbaik, dari guru PAUD akan lahir generasi-generasi terbaik dengan budi pekerti terbaik yang tidak hanya baik untuk mereka dan masa depannya, akan tetapi justru guru-guru PAUD sejatinya sedangmelakukan investasi untuk masa depan akhiratnya dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat untuk anak-anak yang akan mengalir sampai syurga.

Guru saya pernah berkata, “Jadilah guru terbaik, karena itu bisa mengantarkanmu ke Syurga.”

Tags: hupron fadilah, joyful school, joyful school trainer, pelatihan sekolah menyenangkan Categories: education, joyful school, pendidikan, sekolah menyenangkan, sekolah terbaik, transformational teacher, transformational teaching
share TWEET PIN IT SHARE share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *