Lebih Besar Mana Dosa Melanggar Larangan Allah Apa Meninggalkan PerintahNYA?

March 8, 2019 155 0 0

1 Rajab 1440 ini bertepatan dengan hari Jumat (sayyidul ayyam) yang merupakan hari yang baik diantara hari-hari baik lainnya.

Alhamdulillah malam tadi berkesempatan bersama membaca ayat-ayat Allah, dzikir, tasbih, tahmid dilanjutkan dengan mendengarkan tausyiah dari Ustadz Zainal di Masjid Nurul Madinah, Cilandak Jaksel. Ada reminder yang cukup menempar pikiran saya yakni “MAKSIAT tidak hanya saat kita meninggalkan larangan Allah, melalaikan perintahNYA juga artinya kita sedang melakukan MAKSIAT.

Selaras dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sahl bin ‘Abdullah yang saya sadur dari https://risalahnet.wordpress.com, Sahl bin ‘Abdullah berkata: “Meninggalkan perintah Allah itu lebih besar dosanya di sisi Allah daripada melanggar larangan-Nya. Pasalnya, Nabi Adam diterima taubatnya oleh Allah setelah beliau memakan buah pohon yang dilarang oleh-Nya. Sedangkan iblis tidak diampuni karena menolak untuk bersujud kepada Adam, ketika Allah memerintahkannya untuk melakukan hal itu.”

Masalah ini merupakan masalah yang amat penting dan tidak dapat disepelekan. Mengenai alasan meninggalkan perintah lebih besar dosanya daripada melanggar larangan, ada beberapa hal, diantaranya:

Dosa melanggar larangan biasanya terjadi karena syahwat dan kebutuhan, sedangkan dosa meninggalkan perintah biasanya disebabkan oleh kesombongan dan keanghukan. Sedangkan tidak akan masuk surga orang yang di hatinya bercokol kesombongan walaupun seberat dzarrah. Sebaliknya, akan masuk surga orang yang mati membawa tauhid, sekalipun ia pernah berzina dan mencuri. [HR. Bukhari no. 5388 dan Muslim no. 94 dari Abu Dzarr رضي الله عنه]

Melakukan perintah lebih disukai daripada meninggalkan larangan.

Pernyataan tersebut sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah nash, di antaranya sabda-sabda Nabi صلي الله عليه وسلم berikut ini:

“Amal perbuatan yang paling dicintai Allah adalah melaksanakan shalat tepat pada waktunya.” [HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 65 dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه]

“Nabi صلي الله عليه وسلم pernah bertanya: “Maukah kuberitahukan tentang sebaik-baik amal perbuatan kalian, yang paling bersih di sisi Rabb, sang Raja Diraja kalian; yang lebih tinggi mengangkat derajat kalian; dan yang lebih baik bagi kalian daripada berperang melawan musuh, yakni ketika kalian memenggal leher mereka atau mereka memenggal leher kalian?’ Para sahabat menjawab: ‘Tentu saja, wahai Rasulullah.’ Lantas, beliau menjelaskan: ‘Yaitu berdzikir kepada Allah’.” [HR. Imam Ahmad V/195, at-Tirmidzi no. 3374, Ibnu Majah no. 3790, al-Hakim no I/496]

“Ketahuilah, bahwasannya sebaik-baik amal perbuatan kalian adalah shalat.” Serta berbagai nash lainnya.

 

Apa yang disampaikan Ustadz Zainal semalam mengingatkan pada saya tentang penafsiran yang selama  ini salah kaprah yang saya alami sendiri ataupun pada orang-orang di sekitar saya, baik di dunia nyata maupun  di dunia maya. Beberapa kali saya mendengar slentingan seperti ini “Percuma mereka shalat tapi kelakuan masih begitu, mending gw, walau shalat masih bolong-bolong tapi nggak ngrepotin orang lain”  yang mungkin juga pernah Anda dengar.

Sebelum membaca beberapa dalil tentang hal tersebut, sempat mengiyakan statement / slentingan itu dengan asumsi, urusan ibadah itu antara individu dengan Tuhannya, yang penting tidak menyakita makhluk lain, so you are fine. Ternyata It is not fine. Expresi / slentingan itu adalah wujud kesombongan kitaterhadap yang maha kuasa yang sejatinya dosanya lebih besar dari kelalaian kita melakukan maksiat atau perbuatan negatif.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, ”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)

Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata,  “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.” (Al Kaba’ir, hal. 25)

Semakin jelas bahwa kita harus lebih hatihati lagi untuk menjaga amalan-amalan yang diperintahkan Allah SWT, terutamaperintah melakukan shalat fardhu.

semoga kita semua semakin istiqomah dalam menjalankan perintahNYA dan semakin kuat dalam menghindari setiap laranganNYA, Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiiiin…

Categories: joyful school
share TWEET PIN IT SHARE share
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *