Kewajiban Guru Yang Tidak kalah Penting dari Mengajar adalah MENDOAKAN

January 30, 2019 173 0 1

Dua ribu lima adalah tahun pertama saya mulai mendapat amanah sekaligus anugerah luar biasa dari Allah Subhanahu waTa’ala, yaitu MENGAJAR. Dua ribu lima adalah tahun kedua saya kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Tahun  itu usia saya delapan belas tahun, usia remaja bahkan di  usia itu saya masih menemukan beberapa adik-adik yang masih duduk di bangku SMA/SMK.

Berawal dari bimbel ke bimbel, hingga tepat di  Juli 2006 saya kembali mendapatkan amanah dan angerah mewah berkesempatan mengajar di salah satu SMA bagus di Jakarta Timur, SMAN 98 Jakarta. Setahun saja saya di sekolah keren itu, namun pengalaman-pengalaman menarik dan menggelitik saya dapatkan disitu. Yang paling saya ingat adalah ketika belum genap seminggu mengajar disitu, pagi-pagi saya dimarahi guru, karena waktu itu hari Jumat saya memakai baju koko barna biru, (padahal guru-guru lain warna bajunya ndak ada yang sama),  sementara siswa-siswi yang lain memang seragam memakai baju koko warna putih. Usut-usut ternyata si Ibu guru itu menyangka aku ini muridkelas tiga, dua atau mungkin kelas satu yang sedang berkunjung ke ruang guru.

Satu siswa kelas XII waktu itu bernama Febi (kalau tidak salah), dia di waktu istirahat mengajak bercakap-cakap tentang “Bagaimana bisa lancar berbahasa Inggris?”, karena dia ingin sekali menguasai komunikasi dengan baik dengan tujuan yang ia curhatkan, ia ingin segera mendaftar sebagai Abang, dalam kontestasi Abang-None Jakarte.

Mungkin momen itu adalah kali pertama saya mendoakan murid saya sebagai seorang guru. 

Kemudian dari sekolah itu saya hijrah dan mendapat kesempatan mengajar dan belajar di beberapa sekolah, diantaranya: SMKN 40 Jakarta, SMAN1 Parung,Bogor, SMK Ganesa Satria dan beberapa sekolah yang saya datangi untuk berbagi tips and trik serta persiapan mental menghadapi Ujian Nasioanal (karena pada masa itu UN masih menjadi momok yang cukup menyeramkan).

Hingga akhirnya, di tahun 2009, Allah kembali membuka jalan untuk saya bertemu dengan teman-teman guru hebat, tim dan pimpinan yang sangat menguatkan, anak-anak unik dengan ragam potensidan karakternya serta orangtua yang begitu peduli terhadap perkembangan anak-anaknya. Dimanakah itu? yaps di Sekolah Alam Cikeas, menjadi fasilitator  sejak tahun 2009, sunggun banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan, dari pembelajaran akademis dan profesionalitas hingga pembelajaran spiritual.

Dua ribu sembilan dan sekarang masuk tahun dua ribu sembilan belas, genap sepuluh tahun sudah saya beraktifias, mengajar, dan belajar di Sekolah Alam Cikeas. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk saya bertahan di satu sekolah. So, sudah pasti ada alasan kuat di atas ini semua, kenapa hingga saat ini saya masih betah dan bahagia berkarya di sekolah alam cikeas. (The students, the parents, the teachers, the team that been a family are the main reasons for me).

Lalu apa kaitannya dengan judul “doa sebagai salah satu senjata utama seorang guru?”

Baik, seperti quotes dan tulisan-tulisan sebelumnya, saya selalu membuatnya sebagai pengingat bagi diri saya sendiri (#selfreminder), Dari tahun pertama saya mengajar di sekolah-sekolah pada umumnya, di setiap kelasnya pasti adaaaa saja murid yang selalu menjadi perhatian kita. Bukan perhatian karena parasnya, akan tetapi menjadi perhatian sekaligus menyita energi kita karena ulahnya.

Mungkin bagi teman-teman guru pasti pernah mengalami hal yang sama, lalu apa respon pertama keMANUSIAwian kita? “EEuuuugh tu anak yak!”, “Tuanak enaknya diapain yak?”,  “Tuanak satu kerjaannya bikin emosi aja!”, atau kita sampai merespon dalam hati “Bodo amat lah mau naik kelas mau nggak!”, “Kalo anak gw ini lah!”… Pernah ngalamin gitu ndak? .  Yang jelas reaksi-reaksi emosiana itu sering sekali muncul ketika saya mendapati siswa yang tingkahnya aduhaiiiii…

Tapi lambat laun semua itu bisa semakin menyiasati kondisi-kondisi seperti itu dengan lebih memenangkan diri dengan beristighfar dengan lirih dan khusyuk.  Dan semakin kesini justru semakin tertantang untuk lebih menikmati proses PDKT dengan anak-anak yang cenderung menjadi pusat curahan perhatian dan energi kita.

Saya sendiri semakin meyakini, bahwa setiap ulah unik mereka bukan tanpa alasan bukan tanpa sebab musabab sebelumnya, entah dari sekolah sbelumnya, teman-teman sebelumnya atau mungkin pola asuh orangtua sebelumnya,atau bahkan bisa jadi disebabkan oleh GAYA  &  CARA NGAJAR KITA yang kurang asyik baginya.

So, ada langkah-langkah yang biasa dan mulai saya terapkan ketika mendapati kondisi seperti itu:

Pertama, Istighfar (Astagfirulahal adziiim…) adalah salah catu cara termudah dan terarah untuk menerima dan lebih bersahabat dengan setiap kondisi.

Kedua, evaluasi cara dan gaya mengajar. Perkaya gaya mengajar dengan musik, games, grouping, outdoor learning atau apapun itu yang bisa dioptimalkan dari diri dan lingkunga kita.

Ketiga, dekati. Ini yang biasanya agak susah di awal-awal. Banyangkan, kita ditantang untuk mendekati seseorang yang begitu  mengesalkan, yang sekali dua kali belum tentu mempan. Disiliah tantangannya bagi kita seorang guru, yang musti bisa menyembunyikan ketidaksukaan perasaan kita dan merubahnya menjadi perhatian. Untuk langkah detailnya saya tuliskan di buku Transformational Teaching ya teman.

Keempat, nah yang ini adalah salah satu langkah dan cara termudah dan termurah sekaligus mujarab, namun sayang sering kita abaikan, yaitu MENDOAKAN. Seluas-luasnya ilmu guru, tetaplah Allah yg maha luas ilmunya dan yang punya kuasa kepada siapa ilmu itu mudah diterapkan dan diterima. SeShalih-shalihnya guru tetaplah Allah yang punya kuasa menggerakkan hati murid-murid kita untuk menjadi orang baik. So, berdoalah dan mari terus mendoakan murid-murid kita agar Allah mudahkan mereka menyerap ilmu dan menjadi pribadi-lribadi yang baik.

 

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita dan murid-murid kita kedepan, bisa jadi yang sekarang terihat dan nampak menjengkelkan, bisa tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang baik berkat doa-doa dari para guru-guru ihlas dan para orangtua pastinya.

رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً

Rabbi zidni ‘ilman war zuqni fahmaa

“Yaa Rabb, tambahkanlah ilmu bagiku, dan berilah aku kefahaman”  dan juga mudahkanlah murid-murid kami dalam belajar, Aamiin….

 

Tags: fadhil mas ghufron, hupron fadilah, joyful school trainer, Karakter, leadership, motivator muda berdaya, pelatihan guru Categories: education, motivator muda berdaya, pendidikan, personal development, sekolah menyenangkan, transformational teacher, transformational teaching
share TWEET PIN IT SHARE share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *