Wabah Multi-Level-Sin (MuLeS)

January 17, 2019 267 0 2

Indonesia darurat Multi-Level-Sin(MuLeS)

Apa itu MuLeS? Istilah MuLeS atau Multi-Level-Sin jika ditafsirkan dalam bahasa Indonesia sederhana yaitu Dosa Berantai. Oia Multi Level Sin ini sama sekali ndak ada kaitannya sama MLM ya teman. Istilah MuLeS sendiri muncul di pikiran saya beberapa waktu belakangan yang ahirnya kesampaian saya curhatkan hari ini. MuLes, Awas penyakit Muti-Level-Sin semakin mewabah, awas MuleS!

MuLeS ini semakin mewabah dan mudah meluas dengan adanya fasilitas social-media di Indonesia. Contoh peluang MuLeS yang sudah menaun di kalangan masyarakat Indonesia adalah gibah kepada dua sosok Saudara kita pemimpin kita sesama Muslim, yaitu pak Jokowi dan pak Prabowo.

Saya sendiri mendukung orang yang mendukung salah satu dari keduanya yang mereka yakini paling mendekati kriteria, atau paling sedikit resikonya, karena selain hak bisa jadi itu merupakan wujud dan implementasi keimanan dan ketakwaan untuk memilih pemimpin yang Allah perintahkan. Nah, sayangnya hari demi hari waktu demi waktu beranda sosmed saya lebih ramai tentang ungkapan atau bahasan tentang kekurangan bahkan kejelekan lawan. Lebih ngerinya lagi artikel-artikel atau berita-berita yang menyudutkan atu membahas kejelekan lawan justru ramai di LIKE, KOMEN &  SEBARKAN!.

Jika informasi itu terbukti kebenerannya, mungkin  masih mendinglah ya,(walaupun aku sendiri ttp ndak tertarik untuk share yang begituan).  Bayangkan! bayangkan jika ternyata berita yang mendapat ribuan LIKE, KOMEN & SHARE itu ternyata tidak benar? Brrrr, ngeriiii….. Bukankan itu jadi seolah berdosa berjamaah? Shalat jamaah masih ogah, dosa jamaah makin mewabah.  Naaah, yg case semacam ini lah yang saya sebut dengan MuLeS (Multi-Level-Sin) atau dosa berantai atau dosa berjamaah. Semoga aku, dan kamu yang baca ini wahai saudaraku, terhindar dari yang begitu-begituan, Aamiin…  Intinya mari kurangi dan hindari ghubah!

Merujuk ke hukum Islam yang tertera dalam kalamnya,
Allah berfirman dalam Surah al-Hujurat(49):12 :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمُُ وَلاَتَجَسَّسُوا وَلاَيَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابُُ رَّحِيمُُ {12

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang 
(Surah al-Hujurat(49):12).

Ayat tersebut menegaskan posisi hukum gibah sebagai sebuah perbuatan yang merusak tata hidup kemasyarakatan sekaligus sebagai “pengkhianatan” terhadap sesama manusia, ngeri yaaaa?. Sebuah perumpamaan yang sangat tegas dari al-Qur’an tentang gibah ini adalah “sukakah engkau memakan daging saudaramu yang sudah mati”. Pertanyaan yang ironis dari kata “ayuhibbu“ (sukakah) melambangkan bahwa terdapat kecenderungan orang untuk suka bergibah, namun kesukaan itu dicela agama. Lalu ada kata “memakan daging” yang berarti menikmati suasana gibah itu bagaikan seseorang yang mamakan daging dengan nikmatnya. Sedangkan kata “maytan” (mati) berarti bahwa orang yang digibah itu dalam keadaan tidak berdaya, tidak mampu dan tidak sempat membuat pembelaan karena dia tidak hadir. Semakin ngeri kan?

يَاأّيُّهَا الّذِينَ ءَامَنُوا لاَيَسْخَرْ قَوْمُُ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلاَنِسَآءُُ مِّن نِّسَآءٍ عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلاَتَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلاَتَنَابَزُوا بِاْلأَلْقَابِ بِئْسَ اْلإِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ اْلإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ {11

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
(Surah Al Hujuraat : 11)

Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.
Oleh karena itu tidak halal seorang muslim yang mengenal Allah dan mengharapkan hidup bahagia di akhirat kelak, memperolokkan orang lain, atau menjadikan sementara orang sebagai objek permainan dan perolokannya. Sebab dalam hal ini ada unsur kesombongan yang tersembunyi dan penghinaan kepada orang lain, serta menunjukkan suatu kebodohannya tentang neraca kebajikan di sisi Allah. Justru itu Allah mengatakan: “Jangan ada suatu kaum memperolokkan kaum lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan; dan jangan pula perempuan memperolokkan perempuan lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan.”

Nah nah nah makin ngeri kan? Dari pada post & repost yg isinya ngejelekin orang masih mending buat jualan dah ndapapa, (walopun agak mumet juga siii liat branda isinya jualan lipstik sama cireng dan sejenisnya, but It’s fine lah.

Kemudian seminggu belakangan yang ndak kalah ramai dari postingan no 1 & 2, yaitu postingan 80jt. Entah maksudnya apa dengan posting-posting guyon, memememe ndak penting dengan inisiap VA. Cukuplah isighfar, lebih mawas diri, jaga diri jaga keluarga agar terhindar dari yang begituan. Jangan malah dibiki guyonan. Ndak cuma di FB, IG, WhatsApp juga ndak kalah rame ngomongin begituan. Yang anehnya lagi memememe dan postingan begituan yang LIKE, KOMEN, SHARE justru ratusan bahkan ribuan, pada ndak takut MuLeS apa yak?

Berasa udah banyak pahalaaja kita ya, sampe ngumbar-ngumbar guyon latahan yang berpeluang melipatgandakan dosa kita. Naudzubullah, Thumma naudzubillah min dzaalik….

Ditulis di tengah kegalauan atas kondisi diri dan kerumunan-kerumunan yang masih suka latahan, (POSTING, SHARING yg sometimes WITHOUT THINKING) yang bisa semakin mengkhawatirkan kondisi negeri tercinta ini. Tapi aku sih yakin, dan optimis bahwa semua ini proses pembelajaran (bagi yg mau belajar) untuk terus belajar dan tumbuh sesuai dengan yang agama kita ajarkan. Bsimilah bisa!

Salam hangat untukmu, dariku (Mas Fadhil),   Cikeas 10012019

Tags: fadhil mas ghufron, hupron fadilah, Karakter, leadership, motivator muda berdaya Categories: education, motivator muda berdaya, personal development
share TWEET PIN IT SHARE share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *