Jatuh untuk Bangkit

September 6, 2018 110 0 2

Dear Karyawan  yang sedang menapaki tangga kesuksesan,

Pernah nggak ngerasain kejadian-kejadian semacam ini selama bekerja:

  • Kerja optimal minim appraisal?
  • Diposisikan di bawah rekan yang kualitasnya di bawah Anda?
  • Gaji tidak sebanding dengan yang Anda kerjakan?

Bisa jadi hal semacam itu hanya asumsi dan perasaan Anda atau mungkin memang realita yang terjadi dalam sebuah perusahaan. Asumsi ataupun realita, jika Anda merasa dalam kondisi demikian itu artinya Anda sedang terjatuh, terjatuh disebabkan oleh Anda sendiri atau disebabkan faktor eksternal karena belum optimalnya sistem dalam perusahaan.

Dinamika pekerjaan semacam itu bisa saja kita temui dan alami baik dalam perusahaan apapun yangakan mewarnai tapak-tapak Anda melangkahi tangga kesuksesan. Ketika Anda pada fase itu, (terjatuh dalam menapaki tangga kesuksesan), Anda berhak memilih satu dari dua pilihan; Jatuh ke dalam lumpur yang lembut dan menghanyutkan, atau memilih jatuh menimpa pegas, sakit tapi menguatkan dan akan membuat Anda meroket ke atas setelah kesakitan.

 

Tidak sedikit karyawan yang mengalami kondisi tersebut memilih untuk :

  • Mengeluh dan menarasikan masalahnya ke semua orang,
  • Memilih bekerja secukupnya sesuai gaji bulanan yang mereka dapatkan
  • Atau hanya sekedar menyalahkan kanan kiri atas bawah tanpa melakukan perbaikan

Sehingga yang ia dapatkan adalah kelalaian yang merugikan dirinya sendiri yang berujung pada validasi (pengakuan) dari atasan dan orang-orang sekitar bahwa karyawan tersebut memang layak untuk jatuh  dan menerima (sedikit) imbalan sesuai dengan apa yang dia lakukan. Daya dan potensi yang dimiliki tidak dioptimalkan sehingga dia semakin terperosok dan tidak mendapat tempat dalam perusahaan.  Awalnya mungkin dia merasa asyik dengan keyakinan “Nda ada yg perlu nglarang-nglarang gw untuk bekerja santai, Gw ndak salah,gw ndak perlu berubah apalagi bekerja dan berbuat lebih lagi dalam pekerjaan”. Karyawan semacam ini lebih memilih jatuh ke dalam lumpur yang tidak menyakitkan, padahal justru akan menenggelamkan.  

Ada juga karyawan yang lebih memilih jatuh menimpai pegas yang menyakitkan dengan bersikap:

  • Fokusku adalah bekerja bukan mengejar penilaian
  • Kalau kerjaku bagus pasti akan terlihat dari hasil yang optimal
  • Abaikan cibiran orang “Ngapain sih nt bro serius-serius amat gitu?” “Dia aja yang gajinye lebih gede dari nt nggak segitunye!”
  • Tetap fokus pada kualitas dan hasil  pekerjaan
  • Lebih memilih memperbaiki diri daripada menyalahkan orang lain dan keadaan

Lambat laun keseriusan dan integritasnya dalam menyelesaikan pekerjaan akan semakin tampak ke permukaan. Meski awalnya harus menahan kesakitan  dengan melewati (kerja lebih minim gaji dan appraisal) semua itu pasti akan terbayarkan. Hasil prestasi Anda tidak akan mungkin terus menerus dipaksa tenggelam. Kalaupun ketika Anda sudah melakukan yang terbaik namun belum ada reaksi sepadan dari pimpinan, yakinlah bahwa Anda telah melewati waktu bekerja Anda dengan maksimal dan hasil pekerjaan yang optimal.  Hal yang amat  saya yakini adalah “Work more than what you earn is an investment”, ketika kita bekerja lebih dari penghasilah yang kita dapatkan, sejatinya kita sedang melakukan investasi yang pasti dikemudian hari akan kita dapatkan.

Semoga kita semua termasuk orang yang memilih untuk melakukan perbaikan demi perbaikan dibanding menghabiskan waktu untuk menyalahkan dan menyalahkan.

Tulisan ini saya tulis sebagai pengingat dan motivasi buat saya pribadi, sekaligus sebagai doa untuk kawan-kawan semua agar terus bisa lebih menikmati setiap apa yang kita kerjakan.

 

Cikeas, 06 September 2018

Tags: fadhil mas ghufron, trainer sekolah menyenangkan, transformational teaching Categories: joyful school
share TWEET PIN IT SHARE share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *