Pengasuhan Era Digital

April 18, 2018 276 0 0

Memasuki tahun 2018 ini kita semua semakin merasakan dampak perkembangan teknologi di hampir setiap lini kehidupan kita. sehingga, mau tidak mau kita harus terus belajar dan terlibat lebih dalam penggunaan teknologi sehari-hari, terlebih bagi para orangtua yang tidak hanya sebagai pengguna tetapi juga sebagai controller bagi anak-anaknya dalam penggunaan teknologi.

Sayangnya teknologi informasi ini bagaikan pisau bermata dua yang di satu sisi bisa memberikan manfaat bagi penggunanya, tetapi di sisi lainnya bisa memberikan dampak buruk. Karena itu, sudah seharusnya perkembangan teknologi informasi seperti internet disikapi secara bijak oleh kita semua.

Dalam sebuah “Seminar Sehari Internasional Penggunaan Media Digital di Kalangan Anak dan Remaja di Indonesia”, dalam sambutannya Menteri Kominfo mengatakan: “Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi harus dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Teknoloqi tersebut merupakan alat untuk mewujudkan bangsa yang cerdas dan maju. Internet dapat memberikan manfaat besar bagi pendidikan, penelitian, niaga, dan aspek kehidupan lainnya. Kita harus mendorong anak-anak dan remaja untuk menggunakan internet sebagai alat yang penting untuk membantu pendidikan, meningkatkan pengetahuan, dan memperluas kesempatan serta keberdayaan dalam meraih kualitas kehidupan yang lebih baik.”

Hal serupa juga dikemukakan oleh Angela Kearney, UNICEF Country Representative of Indonesia : “Kaum muda selalu tertarik untuk belajar hal-hal baru, namun terkadang mereka tidak menyadari resiko yang dapat ditimbulkan. Penelitian bersama beberapa mitra ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan memastikan bahwa ada keseimbangan resiko dan peluang.”

Pertanyaannya, Apakah kita (orangtua) sudah siap untuk memberikan pengasuhan yang sesuai dengan kebutuhan anak di era digital? Stephen Balkam, Pendiri dan CEO Family Online Safety Institute (FOSI)  memberikan tips berupa Tujuh Langkah Pengasuhan Anak di Era Digital yang baik. Pengasuhan anak di era digital yang baik akan memberdayakan orang tua agar percaya diri dalam mengarahkan anak-anaknya berinternet.

  1. Langkah pertama adalah dengan mengajak anak berbicara. Berbicaralah secara tenang, perlahan dan sesering mungkin serta secara terbuka dan langsung.
    Beri tahu anak-anak tentang nilai-nilai yang dianut. Jangan sampai melewatkan waktu-waktu terbaik dalam memberikan pengajaran, misalnya saat pertama kali memberikan gawai kepada anak-anak.
  2. Langkah kedua adalah belajar. Orang tua tetap harus belajar dan perlu melakukan pencarian secara daring hal-hal yang tidak dimengerti. Jangan sungkan untuk mencoba sendiri aplikasi, permainan, dan situs yang kemungkinan digunakan anak-anak.
  3. Langkah ketiga, orang tua bisa memanfaatkan kendali orang tua atau “parental controls”. Aktifkan pengaturan keamanan yang ada pada sistem operasi, mesin pencari dan permainan.
    Orang tua juga bisa menggunakan “parental controls” pada gawai anak-anak, seperti ponsel cerdas, tablet, maupun konsol permainan.
    “Sesi anak-anak adalah tempat yang aman bagi anak-anak. ‘Parental filters’ adalah langkah yang paling sederhana,” kata Stephen.
  4. Langkah keempat, orang tua harus meletakkan aturan mendasar dan sanksi yang harus ditanggung oleh anak bila melanggar. Orang tua harus menyepakati apa yang boleh dan tidak dilakukan saat berinternet.
  5. Langkah kelima adalah orang tua harus berteman atau mengikuti akun media sosial anak-anaknya, tetapi jangan memata-matai terlalu banyak. Orang tua harus menghargai ruang privasi daring anak-anaknya. Anak-anak memerlukan kebebasan, terutama remaja yang memerlukan ruang privat. Orang tua harus mendorong anak-anaknya untuk membuat reputasi digital yang baik.
  6. Langkah keenam dengan mengeksplorasi, membagikan, dan merayakan hal-hal penting secara daring bersama anak-anak. Orang tua harus terlibat aktif dalam mengeksplorasi dunia daring bersama anak-anak. Orang tua dapat mengambil keuntungan dari cara baru dalam berkomunikasi. Jangan sungkan untuk belajar dari anak-anak dan bersenang-senang dengan cara baru tersebut.
  7. Langkah ketujuh adalah dengan menjadi model digital yang baik bagi anak-anak. Orang tua harus mengendalikan kebiasaan digital yang buruk di depan anak-anak. “Orang tua adalah model bagi anak-anaknya. Jangan menggunakan ponsel saat berkendara, atau menggunakan peralatan teknologi saat makan bersama di meja makan,” tuturnya.

So, Dear Ayah Bunda, yuk terus belajar dan belajar terus demi optimalisasi pengasuhan anak-anak kita yang semakinharisemakin dekat dengan perangkat digital dan tehnologi.

 

Tags: digital parenting, parenting Categories: education
share TWEET PIN IT SHARE share
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *