Pentingnya Komunikasi dan Kolaborasi yang Baik Antara Guru dan Orangtua

March 27, 2018 222 0 2

Selasa 27 Maret 2018, tepat di jam makan siang  saya dan sahabat saya memilih masakan padang sebagai pilihan makan siang. Sesampaianya di warung makan padang kami memesan menu sesuai dengan selera masing-masing. Disini saya tidak ingin membahas betapa nikmatnya menu makan siang kami,  tetapi saya akan sedikit sharing terkait pentingnya komunikasi dan kolaborasi yang baik antara guru dan orangtua siswa. Maklum namanya juga pak guru jadi ya bawaannya ingin terus mengkait-kaitkan setiap masalah dan problematika kehidupan dengan pendidikan, eaaaaa.

Singkat cerita ketika kami sedang menikmati makan siang, persis di depan meja saya ditempati oleh si ibu pemilik warung makan padang dengan anak sulungnya yang masih duduk di sekolah dasar. Seperti terlihat di poto diatas bahwa keduanya walaupun duduk berhadap-hadapan dalam satu meja tetapi masing-masing melakukan aktifitas yang berbeda. Si anak sedang asyik dengan smartphone’nya sedangkan si ibu terlihat sangat fokus dengan pekerjaannya.  And you know what was the mother doing?. Si  ibu sedang mengerjakan tugas prakarya anaknya yang ditugaskan oleh gurunya di sekolah. How come? Kenapa hal tersebut bisa terjadi?.

Saya dan anda mungkin sama-sama meyakini bahwa sang guru menugaskan siswanya untuk mengerjakan sendiri tugasnya di rumah, tapi yang terjadi adalah seperti yang ada di foto di bawah ini.

Foto di atas merupakan satu dari sekian banyak salah pemahaman dan salah perlakuan di rumah yang diakibatkan tidak berjalannya komunikasi yang baik antara guru dan orangtua. Dilihat dari fakta diatas (siswa dengan gawainya) sudah tidak diterima alasan bagi kita sebagai seorang untuk tidak bisa menjalankan komunikasi yang optimal dengan orangtua. Lebih dari sepuluh menit saya membersamai aktifitas mereka dari meja belakang sambil menikmati menu makan siang saya, saya lihat si anak bisa mengakses aplikasi youtube dengan lancar dari video satu ke video lannya,  alias “streaming without buffering“. So sudah dipastikan bahwa keluarga tersebut memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk mendownload aplikasi whatsapp atau sejenisnya yang kemudian bisa dijadikan media komunikasi yang praktis dengan guru di sekolah.

Meski sekolah tempat saya mengajar sudah tidak memberlakukan sistem PR hingga anak lulus SD, tapi saya melihat dan kita masih sama-sama melihat bahwa di negeri kita tercinta Indonesia masih banyak sekolah-sekolah yang mengambil kebijakan PR untuk menambah waktu belajar siswa di rumah.  It’s fine, bukan rahan dan porsi sayajugauntuk melarang sekolah-sekolah unntuk emberikan PR kepada siswanya, emange aku iki sopo?.  Nah yang terpenting yanng ingin saya sharing adalah tentang PENTINGNYA KOMUNIKASI DAN KOLABORASI YANG BAIK ANTARA GURU DAN ORANGTUA.

Terkait dengan hal tersebut kemudian apa yang harus kita (guru)  lakukan : CATET!

Pertama,  Pastikan kita menginformasikan kepada orangtua setiap tugas atau PR yang kita berikan untuk anaknya.

Kedua, Pastikan orangtua memahami dan melaksanakan batasan-batasan pendampingan dalam membantu PR anaknya di rumah.

Ketiga, Manfaatkan tehnologi untuk memudahkan komunikasi dengan orangtua.

Keempat, Libatkan orangtua dalam setiap kegiatan belajar anak, (SESUAI DENGAN PORSINYA).

 

Untuk teman-temanku guru hebat guru pembelajar bisa juga mengkreasikan PR-PR dalam bentuk proyek bersama keluarga, seperti yang diterapkan di Sekolah Alam Cikeas yaitu program Work With Parent (WWP). Apa itu WWP, Bagimana menjalankannya, bagaimana bentuk asesmennya?. Semua sudah saya jelaskan sejelas-jelasnya di buku Sekolah Menyenagkan berikut contoh-contohnya yangtelah kami terapkan dan inovasikan selama lebih dari sepuluh tahun di Sekolah Alam Cikeas.

Ini adalah salah satu laporan Work With parent (WWP) siswa kelas 1 SD yang mendapat tugas untuk mengamati peristiwa gerhana matahari di rumah bersama keluarga.

Tags: fadhil mas ghufron, hupron fadilah, joyful school, joyful school trainer, sekolah menyenangkan, transformational teacher, transformational teaching Categories: guru abad 21, joyful school, pendidikan, sekolah menyenangkan, transformational teacher, transformational teaching
share TWEET PIN IT SHARE share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *