Cara Baru Seleksi Siswa Baru di Abad 21

March 23, 2018 182 0 0

proses wawancara calon siswa

Sudah menjadi pemandangan umum sebuah tes serentak di beberapa sekolah dalam rangka penyaringan siswa baru. Siswa datang berduyun-duyun ditemani oleh orangtua mereka untuk mengikuti ujian tes tertulis di setiap tahunnya. Sekolah dengan prestasi akademis baik akan menjadi salah satu tujuan utama para orangtua untuk menyekolahkan anaknya disana.

Belum lagi sekolah-sekolah unggulan yang sudah menentukan standar nilai minimal tertinggi untuk bisa bersekolah disana. Sebuah kegagalan besar bagi siswa yang bercita-cita di sekolah unggulan tersebut ketika mendapati hasil nilai ujian nasionalnya di bawah standar minimal yang sudah ditentukan oleh sekolah tersebut. Sehingga siswa tersebut harus rela menerima konsekuensi untuk melanjutkan sekolahnya di prioritas kedua, ketiga, dan seterusnya.

Pertanyaannya, apakah lulusan siswa-siswa dengan nasib serupa sudah pasti memiliki perkembangan karir dan hidup di bawah rata-rata siswa yang berhasil masuk dan lulus dengan nilai tinggi di sekolah unggulan itu? Jawabannya, silakan kawan-kawan, Ayah-Bunda, Om-Tante melihat di kanan-kiri, depan-belakang, dan di sekitar kawan-kawan. Apakah hukum itu berhasil, ataukah justru sebaliknya?.

Menurut Direktur Kemahasiswaan UGM, Drs. Hariyanto, M.Si (2008/2009), kemampuan intelektual (hard skill) tidak menjamin seseorang akan sukses dalam hidupnya. Sebab tingkat intelektual hanya mendukung 20% dari pencapaian prestasi dan keberhasilan seseorang. Sementara 80% sisanya berasal dari kemampuan kepribadian (soft skill).

Daniel Goleman, pakar psikologi dari Amerika Serikat, pada tahun 1998 menyatakan bahwa Emotional Quotient (EQ) sangat berpengaruh pada kesuksesan seseorang. Orang yang gagal dalam hidupnya bukan karena rendah kecerdasan intelektualnya, namun karena mereka kurang memiliki kecerdasan emosional, meskipun kecerdasan intelegensinya berada pada tingkatan rata-rata. Tidak sedikit orang yang sukses dalam hidupnya memiliki kecerdasan emosional yang baik. Diketahui EQ berkontribusi 66% dalam kehidupan seseorang, sedangkan IQ berkontribusi 33% saja dalam kesuksesan. Bahkan kontribusi EQ bagi seorang pemimpin perusahaan mempengaruhi 85% dalam karir mereka.

Terkait fenomena tes akademik serentak sebagai proses penjaringan siswa, saya tidak dalam porsi untuk menyatakan proses seperti itu sangat baik, baik, atau kurang baik. Saya hanya akan mencoba mengantarkan Anda semua ke suatu pengibaratan.

Proses seleksi siswa baru itu ibarat jika kita ingin menanam tanaman. Untuk menanam yang kita butuhkan adalah: benih (calon siswa); tanah/media (sekolah, fasilitas dan lingkungan sekitar); dan orang yang merawat (guru dan orangtua).

Benih-benih yang baik dan sejenis akan tumbuh subur jika ditanam di lahan atau tanah yang subur dan sesuai jenis tanaman, terlebih jika dirawat dengan baik oleh pemiliknya.

 

Pertanyaannya:

  1. Apakah kita seterusnya hanya akan menerima siswa dengan tipe kecerdasan yang sama?
  2. Apakah kita seterusnya hanya akan menerima siswa dengan level kecerdasan yang sama?
  3. Apakah kita hanya akan mengembangkan siswa di lingkungan sekolah saja yang sudah pasti terbatas ruang geraknya?

Atau kita ingin

  1. Menanam dan menumbuhkan keberanekaragaman siswa
  2. Menerima tidak hanya siswa yang tinggi intelektualitasnya saja
  3. Membuka seluas-luasnya lahan belajar (tidak hanya di sekolah), yaitu dengan menjalin menjalin kemitraan dengan elemen masyarakat demi memfasilitasi siswa dengan segala varian dan keunikannya.

proses wawancara calon siswa SMA SAC

Jika demikian maka perlu kita ubah cara dan proses penerimaan siswa baru (yang tidakcumates akademik saja). Pusing? Jelas lebih memusingkan. Lelah? Jelas lebih melelahkan dibanding sekedar tes akademik serentak. Lelah di awal dan juga lebih lelah dalam proses menumbuhkan, tetapi percayalah, itu akan menjadi salah satu cara terbaik untuk mencetak generasi emas ke depan.

Izinkan saya berbagi proses penerimaan siswa baru yang dilakukan di SMA Sekolah Alam Cikeas. Tanpa menyatakan bahwa ini adalah cara terbaik dalam proses PSB, saya hanya ingin berbagi cerita, barangkali bisa bermanfaat bagi kawan-kawan semua.

Seperti apa proses PSB yang kami lakukan di SMA Sekolah Alam Cikeas? Berikuta gambaran singkatnya:

  1. Pre-Interview. Wawancara dengan orangtua terkait penyamaan visi mendidik antara orangtua dan sekolah.
  2. Sit in. Calon siswa berkesempatan mengikuti kegiatan seharian bersama teman-temannya di kelas 9 SMP SAC untuk kebutuhan observasi sosialisasi dan kemandirian siswa.
  3. Academic Mapping. Siswa mengerjakan soal-soal secara online yang terdiri dari materi-materi pokok SMP untuk memetakan keunggulan akademis siswa.
  4. Interest Survey. Siswa akan mengisi beberapa instrumen terkait minat bakat mereka yang nanti akan menjadi salah satu acuan untuk dikembangkan di SMA.
  5. Outbound. Siswa berkesempatan untuk menyelesaikan beberapa instalasi outbound sebagai bahan observasi kondisi kesehatan dan ketangkasannya.
  6. Student’s Interview. Fasilitator akan melakukan wawancara dengan siswa terkait kondisi siswa, keluarganya, lingkunganya, fasilitas yang dimilikinya, cita-citanya, dan lain sebagainya. Informasi yang didapat akan menjadi salah satu acuan dalam tindak lanjut pengajaran dan pendampingan di sekolah.
  7. Parents’ Interview. Kepala sekolah atau tim akan melakukan wawancara dengan kedua orangtua terkait hasil observasi yang telah dilakukan pihak sekolah dan membahas tindak lanjut pola asuh dan pola didik yang sesuai serta komitmen bersama selama tiga tahun ke depan.
  8. Jika orangtua sepakat, maka calon siswa akan secara otomatis diterima sebagai siswa SMA Sekolah Alam Cikeas, yang kemudian akan ditindaklanjui untuk proses berikutnya.

Waah, panjang juga ya prosesnya. Pasti Anda sudah kebayang berapa lama dan rumit proses sepanjang itu jika dilakukan untuk setiap siswa. Awalnya juga saya berasumsi demikian, tetapi setelah dipraktekkan menggunakan instrumen yang pas, sebenarnya proses itu ringan dan meyenangkan dan bisa selesai dalam dua hari saja.

Sudah menjadi komitmen sekolah untuk benar-benar memahami kondisi siswa terkini dan visi orangtua sebelum bersepakat untuk mendidik dan mengasuh bersama.

Kebayang kan ketika kita mau antarkan siswa menuju suatu tempat dan kita sudah mengetahui kapasitas mereka masing-masing. Hal tersebut akan membantu kita untuk memilih jalan mana dan cara apa yang paling pas agar tepat dan cepat sampai tujuan.

Project Plan Collaboration SMA Sekolah Alam Cikeas

Selamat mencoba, teruslah belajar, karena ketika kita  telah memutuskan untuk menjadi seorang  pengajar maka saat itulah kita harus dan terus lebih banyak belajar.

Tags: sekolah alam, sekolah alam cikeas, sekolah menyenangkan Categories: education, guru abad 21, joyful school, sekolah menyenangkan, transformational teacher, transformational teaching
share TWEET PIN IT SHARE share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *